1. Kecerdasan adalah sebuah karunia
Seorang Kristen menyesuaikan cara ia berpikir dengan [cara berpikir] Allah, dan karena alasan ini [ia] menolak cara-cara berpikir yang lemah dan dibatasi.Hal ini merupakan tema utama homili Paus Fransiskus pada Misa Jumat pagi [29-11-2013] di Casa Sanctae Martha. Tuhan telah mengajar para murid-Nya untuk menjadi penuh perhatian terhadap tanda-tanda zaman, tanda-tanda yang mana orang-orang Farisi telah gagal untuk memahaminya.
Paus mengatakan bahwa, dalam upaya untuk memahami tanda-tanda zaman, seorang Kristen harus berpikir tidak hanya dengan kepalanya saja, tetapi juga dengan hati dan jiwanya. Jika tidak, dia tidak bisa memahami “jalan Allah dalam sejarah”. Dalam Injil, Yesus sungguh tidak menjadi marah, namun menyatakannya ketika para murid tidak memahamiNya. Di Emmaus Dia berkata: ‘Bagaimana bodoh dan lambatnya hati’. ‘Bagaimana bodoh dan lambatnya hati’… Dia yang tidak memahami hal-hal akan Allah adalah seorang pribadi semacam itu. Tuhan menghendaki kita untuk memahami apa yang terjadi, apa yang terjadi dalam hatiku, apa yang terjadi dalam hidupku, apa yang terjadi di dunia, dalam sejarah … Apa arti dari yang sedang terjadi sekarang? Hal-hal ini merupakan tanda-tanda zaman itu! Di sisi lain, roh dunia memberi kita perbandingan-perbandingan lain, karena roh dunia tidak menginginkan sebuah komunitas: ia meinginkan sebuah kerumunan massa, tanpa pertimbangan, tanpa kebebasan.”
Sementara roh dunia menghendaki kita untuk mengambil sebuah “jalan yang dibatasi,” Santo Paulus memperingatkan bahwa “roh dunia memperlakukan kita seperti dipikirnya kita kurang memiliki kemampuan untuk berpikir bagi diri kita sendiri, ia memperlakukan kita seperti orang-orang yang tidak bebas”: pemikiran yang dibatasi, pemikiran yang sama, pemikiran yang lemah, sebuah pemikiran yang menyebar begitu luas. Roh dunia tidak menghendaki kita untuk bertanya kepada diri kita sendiri di hadapan Allah: Tapi mengapa, mengapa hal lain ini, mengapa hal ini terjadi?’ Atau ia bisa juga menawarkan sebuah cara berpikir Pret-à-porter [‘siap pakai’], yang sesuai dengan selera pribadi: “Aku berpikir sebagaimana aku suka!” Hal ini tidak apa-apa, mereka katakan …. Tapi apa yang roh dunia tidak inginkan adalah apa yang Yesus minta dari kita: pemikiran bebas, pemikiran dari seorang pria dan seorang wanita yang adalah bagian dari umat Allah, dan keselamatan adalah hal ini persisnya! Ingat akan para nabi … ‘Kamu adalah bukan orang-orang-Ku, sekarang Aku katakan orang-orang-Ku ‘: demikian firman Tuhan. Dan ini adalah keselamatan: untuk membuat kita orang-orang, umat Allah, memiliki kebebasan.”
Paus Fransiskus menambahkan bahwa Yesus meminta kita untuk “berpikir secara bebas … dalam upaya untuk memahami apa yang terjadi.” Kebenaran itu adalah bahwa “kita tidak sendirian! Kita perlu bantuan Tuhan”. Kita perlu “memahami tanda-tanda zaman” itu: Roh Kudus, katanya, “memberi kita hadiah ini, sebuah karunia: kecerdasan untuk memahami”: Jalan apa yang Tuhan inginkan? Selalu dengan roh kecerdasan yang dengannya dapat memahami tanda-tanda zaman itu. Adalah indah untuk meminta Tuhan akan rahmat ini, yang mengirimkan kita roh kecerdasan ini, karena kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang lemah, kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang dibatasi dan kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang sesuai dengan kesukaan pribadi: kita hanya memiliki sebuah pemikiran yang seturut dengan Allah. Dengan pemikiran ini, yang merupakan sebuah pemikiran dari akal budi, dari hati, dan dari jiwa. Dengan pemikiran ini, yang merupakan karunia Roh itu, [kita] mencari arti dari hal-hal, dan untuk memahami tanda-tanda jaman dengan baik.”
Paus mengakhiri: Hal ini oleh karena itu merupakan rahmat yang karenanya kita harus minta kepada Tuhan: “kemampuan yang memberikan kita roh untuk “memahami tanda-tanda jaman” itu.
2. Skandal Pengkhotbahan
Paus Fransiskus merayakan Misa di kapel Domus Sanctae Marthae Residensi di Vatikan, Jumat pagi ini [13-12-2013], dengan fokus perhatiannya pada sikap beberapa orang Kristen yang tampaknya “alergi” dengan para pengkhotbah dan terlalu bersifat mengecam mereka yang mewartakan Injil, yang menunjukkan bahwa mereka sering khawatir untuk membiarkan Roh Kudus ke dalam kehidupan mereka dan karenanya rentan terhadap kesedihan yang mendalam.Dalam perhatiannya kepada umat beriman mengikuti bacaan hari itu, Paus Fransiskus fokus pada Injil harian, yang diambil menurut St Matius (11:16-19). Di sana, Yesus menyamakan generasi angkatan-Nya dengan anak-anak yang selalu tidak bahagia, yang menjelaskan bahwa mereka [seolah], “tidak terbuka kepada Firman Allah.” Penolakan mereka, jelasnya, bukan terhadap pesan itu, melainkan terhadap si pembawa pesan. “Mereka menolak Yohanes Pembaptis,” katanya, yang datang, “tidak makan dan tidak minum,” yang mengatakan bahwa ia adalah “seorang yang kerasukan setan.” Mereka menolak Yesus karena mereka katakan, “Dia adalah seorang pelahap, pemabuk, sahabat para pemungut cukai dan para pendosa.” Mereka selalu punya alasan untuk mengkritik pengkhotbah itu:
“Orang-orang dari angkatan itu lebih suka berlindung dalam sebuah agama yang lebih rumit: dalam prinsip-prinsip moral, sebagaimana kelompok orang-orang Farisi; dalam kompromi politik, sebagaimana orang-orang Saduki; dalam revolusi sosial, sebagaimana orang-orang fanatik, dalam spiritualitas gnostik, sebagaimana orang-orang Essene. Mereka [senang] dengan kebersihan mereka, sistem mereka yang dipoles dengan baik. Pengkhotbah itu, namun, tidak [demikian disenangi]. Yesus mengingatkan mereka: ‘Nenek moyangmu melakukan hal yang sama dengan para nabi. “Umat Allah memiliki alergi tertentu terhadap para pengkhotbah Firman:. Mereka menganiaya para nabi, [bahkan] membunuh mereka.”
Paus melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang ini mengaku menerima kebenaran wahyu, “tetapi pengkhotbah itu, pengkhotbahan, tidak. Mereka lebih memilih hidup yang terkurung dalam ajaran-ajaran mereka, dalam kompromi-kompromi mereka, dalam rencana-rencana revolusioner mereka atau dalam spiritualitas [tak bertubuh] mereka” Mereka adalah orang-orang Kristen, yang selalu tidak senang dengan apa yang para pengkhotbah katakan:
“Orang-orang Kristen ini tertutup, mereka terjebak, menyedihkan … orang-orang Kristen ini tidak bebas. Mengapa? Karena mereka takut kepada kebebasan Roh Kudus, yang datang melalui pengkhotbahan. Hal ini, kemudian, merupakan skandal pengkhotbahan, yang mana darinya St Paulus katakan: skandal pengkhotbahan yang berakhir dalam skandal Salib. Bahwa Allah berbicara kepada kita melalui orang-orang dengan keterbatasan-keterbatasan, orang-orang yang penuh dosa, orang-orang dengan skandal: dan apa yang bahkan lebih menjadi skandal lagi adalah itu bahwa Allah berbicara kepada kita dan menyelamatkan kita dengan cara sebagai seorang manusia yang mengatakan Dia adalah Putera Allah, tetapi akhir [hidup-Nya] seperti seorang penjahat. Itulah yang menjadi skandal.”
“Orang-orang Kristen yang menyedihkan,” kata Paus Fransiskus, “tidak percaya pada Roh Kudus, tidak percaya pada kebebasan yang berasal dari pengkhotbahan, yang mengingatkan kalian, mengajarkan kalian – menampar kalian juga – tapi itu adalah kebebasan yang sangat membuat Gereja bertumbuh”:
“Melihat anak-anak ini yang takut untuk menari, menangis, [yang] takut kepada segala sesuatu, yang meminta kepastian dalam segala hal, saya memikirkan orang-orang Kristen yang menyedihkan ini, yang selalu mengkritik para pengkhotbah Kebenaran, karena mereka khawatir untuk membuka pintu kepada Roh Kudus. Marilah kita berdoa bagi mereka, dan berdoa juga untuk diri kita sendiri, bahwa kita tidak menjadi orang-orang Kristen yang menyedihkan, yang memotong kebebasan Roh Kudus untuk datang kepada kita melalui skandal pengkhotbahan itu.”
3. Tuhan menyelamatkan kita dari konspirasi halus keduniawian
Mengambil inspirasi dari bacaan dalam Kitab Makabe, Paus Fransiskus memperingatkan umat beriman untuk menjadi perhatian dalam pencarian gaya hidup sekuler dan kesenangan – yang sering menyerang Gereja dan menerapkan aturan-aturan yang tidak adil terhadap umat Kristiani.Mengacu pada bacaan pertama hari ini [18-11-2013], Paus berbicara tentang kutipan pendek yang menggambarkan upaya orang-orang Yahudi untuk mendapatkan kembali identitas budaya dan agama mereka setelah Antiokhus IV Epifanes telah menekan ketaatan hukum-hukum Yahudi dan menodai kuil itu setelah meyakinkan umat Allah untuk meninggalkan tradisi-tradisi mereka.
Tuhan, Paus berdoa, berikan aku kearifan (discernment) untuk mengenali konspirasi halus keduniawian yang menghantar kita kepada negosiasi nilai-nilai kita dan iman kita.
Dalam homilinya, Paus Fransiskus memperingatkan para umat beriman terhadap apa yang dia sebut sebagai sebuah “keseragaman yang diglobalisasikan” yang merupakan hasil dari keduniawian sekuler.
Seringkali ia mengatakan, umat Allah lebih memilih untuk menjauhkan diri dari Tuhan mendukung proposal-proposal duniawi. Dia mengatakan keduniawian adalah akar kejahatan dan dapat mengarahkan kita untuk meninggalkan tradisi-tradisi kita dan menegosiasikan kesetiaan kita kepada Allah yang selalu setia. Ini – Paus menasihati – disebut murtad (pengingkaran), yang menurutnya merupakan bentuk “penyelewengan (perselingkuhan)” yang terjadi ketika kita menegosiasi esensi dari keberadaan kita itu: kesetiaan kepada Tuhan.
Dan Paus Fransiskus memperingatkan bahwa hal ini terjadi saat ini. Tergerak oleh semangat keduniawian, orang-orang menegosiasikan kesetiaan mereka kepada Tuhan, mereka menegosiasikan identitas mereka, dan mereka menegosiasikan persekutuan sanak keluarga mereka yang Allah kasihi.
Dan dia berbicara tentang kontradiksi yang melekat pada kenyataan bahwa kita tidak siap untuk menegosiasikan nilai-nilai, tetapi kita menegosiasikan loyalitas. Sikap ini – katanya – “adalah buah iblis yang membuat jalannya ke depan dengan semangat keduniawian sekuler”.
Dan merujuk lagi kepada kutipan pendek dalam Kitab Makabe, di mana semua bangsa mematuhi keputusan raja dan mengadopsi adat kebiasaan asing dengan budaya mereka, Paus menunjukkan bahwa ini “adalah bukan sebuah globalisasi yang indah, persatuan dari semua bangsa, masing-masing dengan adat kebiasaan-kebiasaan mereka sendiri tetapi dipersatukan, tetapi keseragaman globalisasi hegemonik, itu adalah – katanya – pikiran tunggal: hasil dari keduniawian sekuler ”
Dan dengan mengacu pada sebuah novel abad ke-20 “Lord of the World” [Tuhannya Dunia] yang berfokus pada semangat keduniawian yang mengarah ke kemurtadan, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap keinginan untuk “menjadi seperti orang lain” dan apa yang disebutnya sebuah”peremajaan progresivisme”. “Bagaimana menurut kalian?” – katanya pahit – “bahwa saat ini pengorbanan-pengorbanan manusia tidak dibuat? Banyak, banyak orang membuat pengorbanan-pengorbanan manusia dan ada hukum-hukum yang melindungi mereka”.
Apa yang menghibur kita – ia menyimpulkan – adalah bahwa Tuhan tidak pernah menyangkal Diri-Nya kepada kesetiaan-Nya. “Dia menunggu kita, Dia mengasihi kita, Dia mengampuni kita. Mari kita berdoa semoga kesetiaan-Nya dapat menyelamatkan kita dari roh duniawi yang menegosiasikan semuanya. Mari kita berdoa semoga Dia melindungi kita dan memungkinkan kita untuk maju, menuntun kita dengan tangan-Nya, seperti seorang ayah dengan anaknya. Dengan memegang tangan Tuhan kita akan selamat”.
4. Semangat keingintahuan menjauhkan orang dari Allah
Semangat keingintahuan menimbulkan kebingungan dan menjauhkan sebuah pribadi dari Roh kebijaksanaan, yang membawa damai, kata Paus Fransiskus dalam homilinya saat Misa Kamis pagi [14-11-2013] di Casa Santa Marta.Paus memulai homilinya dengan mengulas tentang bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan, yang menggambarkan “keadaan jiwa dari pria dan wanita yang rohani”, dari umat Kristiani sejati, yang hidup “dalam kebijaksanaan Roh Kudus. Dan kebijaksanaan ini membawa mereka maju dengan Roh yang cerdas, suci, tunggal, beraneka ragam dan halus ini”.
“Hal ini merupakan peziarahan dalam hidup dengan Roh ini: Roh Allah, yang membantu kita untuk menilai, untuk membuat keputusan-keputusan sesuai dengan hati Allah. Dan Roh ini memberikan kita damai, selalu! Ini adalah Roh damai, Roh kasih, Roh persaudaraan. Dan kekudusan adalah hal ini tepatnya. Hal yang Allah minta dari Abraham-‘Berjalan di hadapan-Ku dan jadilah tak tercela’-adalah hal ini: damai ini. Mengikuti pergerakan Roh Allah dan [Roh] Kebijaksanaan ini. Dan pria dan wanita yang menjalani jalur ini, kita dapat katakan mereka adalah para pria dan wanita bijaksana … karena mereka mengikuti pergerakan kesabaran Allah.”
Dalam Injil, Paus menggarisbawahi, “kita menemukan diri kita di hadapan roh yang lain, yang bertentangan dengan kebijaksanaan Allah: [yaitu] semangat keingintahuan”.
“Dan ketika kita ingin menjadi para master dari proyek-proyek Allah, dari masa depan, dari benda-benda, untuk mengetahui segala sesuatu, untuk memiliki segalanya di tangan … orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus,” Kapankah Kerajaan Allah akan datang?’ [sekedar] ingin tahu! Mereka ingin tahu tanggalnya, harinya … Semangat keingintahuan memberikan kita jarak dari Roh kebijaksanaan karena semua yang menarik bagi kita adalah rincian-rincian, berita-berita, cerita-cerita kecil keseharian. Oh, bagaimana hal ini akan terjadi? Ini adalah [tentang] bagaimananya: hal itu adalah roh bagaimana! Dan semangat keingintahuan bukanlah sebuah roh yang baik. Ini adalah semangat yang mengacaukan, [semangat] pemberian jarak diri seseorang dari Allah, semangat berbicara terlalu banyak. Dan Yesus juga memberitahu kita sesuatu yang menarik: semangat keingintahuan ini, yang adalah duniawi, menuntun kita kepada kebingungan ”
Keingintahuan, Paus melanjutkan, mendorong kita untuk ingin merasa bahwa Tuhan ada di sini atau lebih tepatnya di sana, atau menuntun kita untuk berkata: “Tapi aku tahu seorang visioner [yang memiliki penglihatan], yang menerima surat-surat dari Bunda Maria, pesan-pesan dari Bunda Maria”. Dan Paus berkomentar: “Tapi, lihat, Bunda kita adalah Bunda semua orang! Dan dia mencintai semua dari kita. Dia bukanlah kepala kantor pos, yang mengirimkan pesan-pesan setiap hari.”
Semacam tanggapan-tanggapan terhadap situasi-situasi ini, ia menegaskan, “memberikan kita jarak dari Injil, dari Roh Kudus, dari kedamaian dan kebijaksanaan, dari kemuliaan Allah, dari keindahan Allah.”
“Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah tidak datang dengan cara yang menarik perhatian: hal itu datang dengan kebijaksanaan.”
“Kerajaan Allah ada di antara kamu,” kata Yesus, dan itu adalah tindakan dari Roh Kudus ini, yang memberikan kita kebijaksanaan dan kedamaian. Kerajaan Allah tidak datang dalam (sebuah keadaan dari) kebingungan, sama seperti Allah tidak berbicara kepada nabi Elia dalam angin, dalam badai (tapi) Dia berbicara dalam tiupan sepoi-sepoi yang lembut, tiupan sepoi-sepoi kebijaksanaan.”
“Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus mengatakan bahwa dia harus selalu menghentikan dirinya di hadapan semangat keingintahuan itu,” katanya. “Ketika dia berbicara dengan saudari-saudari yang lain dan saudari ini sedang bercerita tentang keluarganya, tentang orang-orang, kadang-kadang subyeknya berubah, dan dia menjadi ingin tahu akhir dari cerita itu. Tapi dia merasa bahwa ini adalah bukan Roh Allah, karena itu adalah sebuah semangat yang mengacaukan, [semangat] keingintahuan.
“Kerajaan Allah ada di antara kita: jangan mencari hal-hal aneh, jangan mencari hal-hal baru dengan keingintahuan yang duniawi ini. Mari kita biarkan Roh Kudus untuk memimpin kita maju dalam kebijaksanaan itu, yang adalah seperti sebuah tiupan sepoi-sepoi yang lembut,” katanya. “Ini adalah Roh Kerajaan Allah, yang darinya Yesus tunjukkan. Maka jadilah itu.”
5. Korupsi adalah proses pembusukan yang tertutupi dari makam kuburan kesalahan yang ditutupi
Mereka yang tidak benar-benar bertobat dan hanya berpura-pura menjadi orang Kristen merusak Gereja. Ini adalah kata-kata Paus Fransiskus pada Misa Senin pagi [11-11-2013] di Santa Marta Vatikan.Paus Fransiskus memfokuskan homilinya pada nasihat Tuhan untuk mengampuni saudara-saudara kita yang telah berdosa. Yesus, katanya, tidak pernah lelah memaafkan, dan demikian pula kita seharusnya. Seperti yang Injil katakan, jika saudara kita menganiaya kita tujuh kali dalam satu hari, dan bertobat setiap kali, kita harus memaafkannya.
Namun, Paus Fransiskus mengingatkan, ada perbedaan antara menjadi seorang pendosa dan seorang yang korup. Mereka yang berbuat dosa dan bertobat, yang meminta pengampunan, adalah rendah hati di hadapan Tuhan. Tetapi mereka yang terus berbuat dosa, sambil berpura-pura menjadi Kristen, menjalani sebuah kehidupan ganda, mereka korup. Seorang Kristen yang dermawan, Paus Fransiskus mengatakan, yang memberikan kepada Gereja dengan satu tangan, tapi mencuri dengan tangan yang lain dari negaranya, dari orang miskin, adalah tidak adil. Dan Yesus berkata: “Akan lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan dililitkan ke lehernya dan dia dibuang ke laut”. Hal ini karena, Paus menjelaskan, orang itu berdusta, dan “di mana ada tipu daya, yang pasti bukan Roh Allah”.
“Kita semua harus menyebut diri kita sendiri para pendosa”, Paus Fransiskus mengatakan, tetapi mereka yang korup tidak memahami kerendahan hati. Yesus menyebut mereka makam-makam yang dikapur putih (baca: kuburan kesalahan yang ditutupi): mereka tampil cantik, dari luar, tapi di dalam mereka penuh dengan tulang-tulang mati dan pembusukan. Dan seorang Kristen yang membanggakan tentang menjadi Kristen, tetapi tidak menjalani sebuah kehidupan Kristen, adalah korup.
Kita semua tahu orang-orang seperti itu, Paus Fransiskus katakan, dan mereka merusak Gereja karena mereka tidak hidup dalam semangat Injil, tetapi dalam semangat keduniawian. St Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma jelas mendesak mereka untuk tidak masuk ke dalam kerangka kerja itu, ke dalam mentalitas keduniawian, karena itu mengarah kepada kehidupan ganda ini.
Kehidupan korup adalah sebuah”pembusukan yang tertutupi”, kata Paus Fransiskus. Yesus tidak mengatakan bahwa orang-orang yang korup adalah para pendosa, tetapi Ia mengatakan mereka adalah orang-orang yang munafik. Mari kita minta Roh Kudus, Paus Fransiskus mengakhiri, akan rahmat untuk mengakui bahwa kita adalah para pendosa, tetapi tidak korup.
6. Gereja milik semua orang
Di hati Kristianitas itu adalah sebuah undangan ke pesta Tuhan. Itu merupakan pesan Paus Fransiskus pada Misa pagi ini [05-11-2013] di Casa Santa Marta. Paus mengatakan bahwa Gereja “tidak hanya untuk orang-orang baik;” undangan itu menjadi sebuah bagian yang menyangkut semua orang. Dan ia menambahkan bahwa, pada Hari Raya Tuhan kita harus “berpartisipasi penuh” dan dengan semua orang; kita tidak bisa memilih-milih. Umat Kristen, kata dia, tidak bisa puas dengan hanya berada di daftar tamu – yang tidak berpartisipasi sepenuhnya seperti tidak ikut serta.Bacaan-bacaan hari ini, Paus katakan, [menunjukkan] identitas orang Kristen itu. Dia menekankan bahwa “pertama-tama dari semua, esensi orang Kristen itu adalah undangan: kita hanya menjadi umat Kristen jika kita diundang.” Ini adalah sebuah “undangan bebas” dari Allah untuk berpartisipasi. Kalian tidak dapat membayar untuk masuk ke dalam pesta itu, ia memperingatkan: “kalian diundang atau kalian tidak bisa masuk” Jika “dalam hati nurani kita,” katanya, “kita tidak memiliki kepastian diundang ini” maka “kita belum mengerti apa seorang Kristen itu”:
“Seorang Kristen adalah seorang yang diundang. Diundang untuk apa? Ke toko? Untuk berjalan-jalan? Tuhan ingin memberitahu kita sesuatu yang lebih: Kalian diundang untuk ikut serta dalam pesta itu, kepada sukacita karena diselamatkan, kepada sukacita karena ditebus, kepada sukacita karena berbagi hidup dengan Kristus. Ini adalah sukacita! Kalian dipanggil ke sebuah pesta! Pesta adalah sebuah pertemuan orang-orang yang bercakap-cakap, tertawa, merayakan, bahagia bersama-sama. Saya belum pernah melihat seorang pun berpesta sendirian. Itu akan membosankan, bukan? Membuka sebotol anggur… itu bukan pesta, itu sesuatu yang lain. Kalian harus berpesta dengan orang lain, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan orang-orang-orang yang telah diundang, karena aku diundang. Menjadi Kristen berarti persekutuan, persekutuan dalam tubuh ini, dalam orang-orang yang telah diundang ke pesta itu. Ini adalah persekutuan Kristiani”
Beralih ke Surat Kepada Jemaat di Roma, Paus kemudian menegaskan bahwa pesta ini adalah sebuah “pesta persatuan.” Dia menggarisbawahi kenyataannya bahwa semua [orang] diundang, “yang baik dan yang buruk.” Dan yang pertama yang diundang adalah yang terpinggirkan:
“Gereja bukan merupakan Gereja yang hanya untuk orang-orang baik. Apakah kita ingin menjelaskan siapa yang termasuk Gereja, pesta ini? Para pendosa. Semua dari kita para pendosa yang diundang. Pada poin ini ada sebuah komunitas yang memiliki karunia-karunia beragam: seseorang memiliki karunia bernubuat, karunia lainnya dalam pelayanan, seseorang yang mengajar … Kita semua memiliki kualitas-kualitas dan kekuatan-kekuatan. Tetapi masing-masing dari kita membawanya ke pesta sebuah hadiah bersama. Masing-masing dari kita dipanggil untuk berpartisipasi secara penuh dalam pesta itu. Eksistensi Kristiani tidak dapat dipahami tanpa partisipasi ini. “Aku pergi ke pesta itu, tapi aku tidak melampaui lebih jauh lagi, karena aku hanya ingin berada dengan tiga atau empat orang yang aku kenal … “Kalian tidak bisa melakukan ini dalam Gereja! Kalian berpartisipasi secara penuh atau kalian tetap berada di luar. Kalian tidak dapat memilih-milih: Gereja adalah untuk semua orang, dimulai dengan yang saya sudah sebutkan, [yaitu] yang paling terpinggirkan. Ini adalah Gereja semua orang! “
Berbicara tentang perumpamaan di mana Yesus mengatakan beberapa [orang] yang diundang mulai berdalih [mencari-cari alasan], Paus Fransiskus berkata: ” Mereka tidak menerima undangan itu! Mereka mengatakan ‘ya’, tapi tindakan mereka mengatakan ‘tidak.’” Orang-orang ini, katanya, “adalah umat Kristen yang puas untuk berada di daftar tamu itu … Orang-orang Kristen pilihan”. Tapi, ia memperingatkan, hal ini tidak cukup, karena jika kalian tidak berpartisipasi kalian bukan seorang Kristen. “Kalian berada dalam daftar,” katanya, tapi ini tidak cukup untuk keselamatan! Ini adalah Gereja: mengambil bagian dalam Gereja adalah sebuah rahmat; mengambil bagian dalam Gereja adalah sebuah undangan.” Dan hak ini, lanjutnya, tidak bisa dibeli … “Mengambil bagian dalam Gereja,” tambahnya,” adalah menjadi bagian dari sebuah komunitas, komunitas Gereja. Mengambil bagian dalam Gereja adalah untuk berpartisipasi dalam semua kebajikan-kebajikan, kualitas-kualitas yang Tuhan telah berikan kepada kita dalam pelayanan kita dari satu orang untuk yang lain.” Paus Fransiskus melanjutkan, “Mengambil bagian dalam Gereja berarti menjadi bertanggung jawab untuk hal-hal yang Tuhan minta dari kita” Pada akhirnya, ia berkata, “mengambil bagian dalam Gereja adalah mengambil bagian dalam Umat Allah ini, dalam perjalanannya menuju keabadian.” Tidak seorang pun, dia peringatkan, adalah protagonis Gereja: … tapi kita punya SATU,” yang telah melakukan segalanya. Allah “adalah protagonis itu! “Kita adalah pengikut-pengikut-Nya … dan “dia yang tidak mengikutiNya adalah seorang yang mencari-cari alasan dirinya” dan tidak pergi ke pesta itu:
Tuhan sangat murah hati. Tuhan membuka semua pintu. Tuhan juga mengerti mereka yang berkata kepadaNya, “Tidak, Tuhan, aku tidak ingin datang kepadaMu.’ Ia mengerti dan menunggu mereka, karena Ia penuh belas kasihan. Tetapi Tuhan tidak suka mereka yang berkata ‘ya’ namun melakukan yang sebaliknya; yang berpura-pura berterima kasih untuk semua hal yang baik; yang memiliki perilaku yang baik, tapi pergi dengan cara mereka sendiri dan tidak mengikuti jalan Tuhan: mereka yang selalu berdalih [mencari-cari alasan] sendiri, mereka yang tidak tahu sukacita, yang tidak mengalami sukacita dari persekutuan. Mari kita mohon kepada Tuhan atas rahmat pengertian ini: betapa indahnya diundang ke pesta, betapa indahnya untuk mengambil bagian di dalamnya dan berbagi kualitas-kualitas seseorang, betapa indahnya untuk bersamaNya dan betapa salahnya untuk bimbang antara ‘ya’ dan ‘tidak,’ mengatakan ‘ya’, tapi terpuaskan hanya dengan menjadi seorang Kristen pada nama saja.
7. Allah selalu berinisiatif untuk berjumpa dengan manusia!
Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada penerimaan calon katekumen dan para katekumen di penutupan Tahun Iman:Para Katekumen terkasih,
Momen penutupan Tahun Iman ini menjumpai kalian berkumpul di sini, dengan para katekis dan anggota keluarga kalian, juga perwakilan banyak kaum pria dan wanita lainnya di seluruh dunia yang berada di jalan iman kalian yang sama. Secara spiritual, kita semua terhubung pada momen ini. Kalian datang dari berbagai negara, dari tradisi-tradisi budaya dan pengalaman-pengalaman yang berbeda. Namun malam ini kita merasa kita memiliki begitu banyak kesamaan di antara kita. Kita terutama memiliki satu: keinginan kepada Allah. Keinginan ini dibangkitkan oleh kata-kata pemazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat wajah Allah?” (Mzm 42:1-2). Hal ini sangat penting untuk menjaga keinginan hidup ini, kerinduan untuk melihat Tuhan dan mengalami Dia, untuk mengalami Kasih-Nya, untuk mengalami Rahmat-Nya! Jika seseorang tidak lagi haus kepada Allah yang hidup, iman berada dalam bahaya menjadi sebuah kebiasaan, ia beresiko padam, seperti api yang tidak diberi makan. Ini beresiko menjadi “tengik”, tidak berarti.
Penjelasan Injil ini (bdk. Yoh 1:35-42) menunjukkan kita Yohanes Pembaptis yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Domba Allah kepada murid-murid-Nya. Dua dari mereka mengikuti Gurunya, dan kemudian, pada gilirannya, menjadi para “mediator” yang memungkinkan orang lain untuk menjumpai Tuhan, mengenal Dia dan mengikutiNya. Ada tiga momen dalam narasi ini yang mengingatkan pengalaman katekumenat. Pertama, ada momen mendengarkan. Kedua murid itu mendengarkan kesaksian Pembaptis. Kalian juga, para katekumen terkasih, telah mendengarkan orang-orang yang telah berbicara kepada kalian tentang Yesus dan menyarankan agar kalian mengikutiNya dengan menjadi murid-murid-Nya melalui Baptisan. Di tengah hiruk-pikuk dari banyaknya suara yang menggema di sekitar kalian dan di dalam diri kalian, kalian telah mendengarkan dan menerima suara yang menunjukkan Yesus sebagai Seseorang yang dapat memberikan makna penuh untuk hidup kita.
Momen ke-dua adalah perjumpaan. Kedua murid itu menjumpai Gurunya dan tinggal bersamaNya. Setelah perjumpaannya dengan Dia, segera mereka melihat sesuatu yang baru di dalam hati mereka: kebutuhan untuk menyampaikan sukacita mereka kepada orang lain, supaya mereka juga bisa bertemu denganNya. Andreas, pada kenyataannya, menemui Simon saudaranya dan membawa dia kepada Yesus. Betapa baiknya hal itu untuk kita renungkan! Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi sendirian, tertutup pada diri kita sendiri, tetapi dalam upaya untuk dapat menjumpai Dia dan membuka diri kita sendiri untuk menjumpai orang lain. Allah pertama kali datang kepada masing-masing dari kita; dan ini luar biasa! Dia datang untuk bertemu dengan kita! Dalam Alkitab, Allah selalu muncul sebagai Seseorang yang mengambil inisiatif dalam perjumpaan-Nya dengan manusia: Dialah yang mencari manusia, dan biasanya Dia mencarinya justru ketika manusia berada dalam momen kepahitan dan tragis karena mengkhianati Allah dan melarikan diri dari-Nya. Allah tidak menunggu dalam pencarian-Nya: Dia mencarinya keluar dengan segera. Dia adalah Pencari yang sabar, Bapa kita! Dia pergi sebelum kita dan Dia menunggu kita selalu. Dia tidak pernah lelah menantikan kita, Dia tidak pernah jauh dari kita, tetapi Dia memiliki kesabaran untuk menunggu momen yang terbaik untuk memenuhi masing-masing dari kita. Dan ketika perjumpaan itu terjadi, hal itu tidak pernah tergesa-gesa, karena Allah ingin tetap akhirnya dengan kita untuk menopang kita, untuk menghibur kita, untuk memberi kita sukacita-Nya. Allah bergegas menemui kita, tapi Dia tidak pernah tergesa-gesa meninggalkan kita. Dia tetap bersama kita. Seperti kita merindukan Dia dan menginginkan Dia, maka Dia juga berkeinginan untuk berada bersama kita, bahwa kita boleh menjadi milik-Nya, kita merupakan”milik”-Nya, kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Dia, juga, kita dapat katakan, haus akan kita, untuk menemui kita. Allah kita haus akan kita. Dan ini merupakan hati Allah. Adalah demikian indah mendengar hal ini.
Bagian terakhir narasi adalah berjalan. Kedua murid-Nya berjalan menuju Yesus dan kemudian berjalan terus menerus bersama-sama dengan Dia. Ini adalah ajaran penting bagi kita semua. Iman ialah berjalan dengan Yesus. Ingat ini selalu: iman ialah berjalan dengan Yesus; dan itu adalah berjalan yang berlangsung seumur hidup. Pada akhirnya akan ada perjumpaan yang definitif itu. Tentu saja, pada beberapa momen di perjalanan itu kita merasa lelah dan bingung. Tapi iman memberi kita kepastian akan kehadiran konstan Yesus dalam setiap situasi, bahkan yang paling menyakitkan atau sulit dipahami sekalipun. Kita dipanggil untuk berjalan dalam upaya untuk bisa masuk semakin dalam ke dalam misteri kasih Allah, yang memerintah atas kita dan memungkinkan kita untuk hidup dalam ketenangan dan pengharapan.
Para Katekumen yang terkasih, hari ini kalian memulai perjalanan katekumenat. Permohonan saya bagi kalian adalah untuk mengikuti itu dengan sukacita, tentunya dengan dukungan keseluruhan Gereja, yang mengawasi kalian dengan kepercayaan yang besar. Semoga Maria, murid yang sempurna, menemani kalian: adalah indah untuk memiliki dia sebagai Ibu kita dalam iman! Saya mengundang kalian untuk menjaga antusiasme dari momen pertama itu di mana Dia membuka mata kalian dengan terang iman; untuk mengingat, sebagaimana murid yang dikasihiNya, hari, jam di mana untuk pertama kalinya kalian tinggal bersama Yesus, merasakan tatapan-Nya pada kalian. Jangan pernah lupa tatapan Yesus pada kalian; pada kalian, pada kalian … Jangan pernah lupa tatapan-Nya! Itu adalah sebuah tatapan kasih. Dan dengan demikian kalian akan berada selamanya pasti di antara kasih setia Tuhan. Dia setia. Yakinlah: Dia tidak akan pernah mengkhianati kalian!
8. Yang paling dicari Yesus adalah para pendosa besar!
Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada hari Minggu Adven Pertama 2013:Dalam Bacaan Pertama kita dengar Nabi Yesaya berbicara kepada kita tentang sebuah perjalanan, dan dia mengatakan bahwa dalam hari-hari terakhir, di akhir perjalanan itu, gunung Bait Tuhan akan berdiri sebagai gunung tertinggi. Dia mengatakan hal ini untuk memberitahu kita bahwa hidup kita adalah sebuah perjalanan: kita harus melakukan perjalanan ini untuk tiba di gunung Tuhan itu, untuk berjumpa dengan Yesus. Hal yang paling penting yang dapat terjadi pada seseorang adalah untuk bertemu dengan Yesus: perjumpaan dengan Yesus yang mengasihi kita, yang telah menyelamatkan kita, yang telah memberikan hidupnya untuk kita. Perjumpaan dengan Yesus. Dan kita sedang melakukan perjalanan dalam upaya untuk bertemu Yesus.
Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri pertanyaan ini: Tapi kapan aku bertemu Yesus? Hanya di saat akhir? Tidak, tidak! Kita bertemu Dia setiap hari. Bagaimana? Dalam doa, ketika kalian berdoa, kalian bertemu Yesus. Ketika kalian menerima Komuni, kalian bertemu Yesus dalam Sakramen-sakramen. Ketika kalian membawa anak kalian untuk dibaptis, kalian bertemu Yesus, kalian menemukan Yesus. Dan hari ini, kalian yang akan menerima Konfirmasi, kalian juga akan menjumpai Yesus; maka kalian akan bertemu Dia dalam Komuni. “Dan kemudian, Bapa, setelah Konfirmasi, Selamat tinggal?”, karena mereka mengatakan Konfirmasi disebut “sakramen selamat tinggal”. Apakah ini benar atau tidak? … Setelah Konfirmasi kalian tidak pernah lagi kembali ke Gereja: benar atau salah? … begini, begini! Bagaimana pun, setelah Konfirmasi bahkan, seluruh hidup kita merupakan sebuah perjumpaan dengan Yesus: dalam doa, ketika kita pergi ke Misa, dan ketika kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, ketika kita mengunjungi orang sakit, ketika kita membantu kaum miskin, ketika kita berpikir tentang orang lain, ketika kita tidak egois, ketika kita mengasihi … dalam hal-hal ini kita selalu bertemu Yesus. Dan perjalanan hidup itu tepatnya ialah hal ini: melakukan perjalanan dalam upaya untuk bertemu Yesus.
Dan hari ini, itu juga merupakan sebuah sukacita bagi saya untuk datang dan mengunjungi kalian, karena hari ini dalam Misa ini kita semua seharusnya bertemu Yesus, dan kita akan menjalani sebuah bagian dari perjalanan itu bersama-sama. Ingatlah selalu hal ini: hidup adalah sebuah perjalanan. Ini adalah sebuah jalan, sebuah perjalanan untuk bertemu Yesus. Pada akhirnya, dan selamanya. Sebuah perjalanan di mana kita tidak berjumpa dengan Yesus bukanlah sebuah perjalanan Kristiani. Itu bagi orang Kristen adalah untuk terus berjumpa dengan Yesus, untuk memperhatikan Dia, untuk membiarkan dirinya dijaga oleh Yesus, karena Yesus mengawasi kita dengan kasih; Dia mengasihi kita demikian sangat, Dia sangat mengasihi kita dan Dia akan selalu menjaga kita. Untuk berjumpa dengan Yesus juga berarti membiarkan dirinya sendiri ditatap oleh-Nya. “Tapi, Bapa, engkau tahu,” salah satu dari kalian mungkin berkata, “engkau tahu bahwa perjalanan ini mengerikan bagiku, aku adalah semacam seorang pendosa, aku telah melakukan banyak dosa … bagaimana aku dapat berjumpa dengan Yesus?” Dan kalian tahu bahwa orang-orang yang paling dicari Yesus adalah para pendosa paling besar; dan mereka telah mencela Dia untuk hal ini, dan orang-orang itu – mereka yang telah percaya diri mereka sendiri layak – akan mengatakan: ini bukan nabi yang sesungguhnya, lihatlah persahabatan yang menyenangkan seperti apa yang Dia jaga! Dia berada dengan para pendosa … Dan Dia berkata: Aku datang bagi mereka yang membutuhkan keselamatan, yang membutuhkan penyembuhan. Yesus menyembuhkan dosa-dosa kita. Dan sepanjang jalan itu Yesus datang dan mengampuni kita – semua dari kita para pendosa, kita semua adalah para pendosa – bahkan ketika kita melakukan sebuah kesalahan, ketika kita berbuat sebuah dosa, ketika kita berdosa. Dan pengampunan yang kita terima dalam Pengakuan dosa ini merupakan sebuah perjumpaan dengan Yesus. Kita selalu berjumpa dengan Yesus.
Jadi mari kita maju dalam hidup seperti ini, sebagaimana Nabi itu katakan, ke gunung itu, sampai hari itu ketika kita akan mencapai perjumpaan terakhir itu, ketika kita akan dapat memandang tatapan indah Yesus itu, itu begitu indah. Ini adalah kehidupan Kristiani: berjalan, bergerak maju, bersatu sebagai saudara dan saudari, mengasihi satu sama lain. Berjumpa dengan Yesus. Apakah kalian setuju, sembilan dari kalian? Apakah kalian ingin bertemu Yesus dalam hidup kalian? Ya? Hal ini penting dalam kehidupan Kristiani. Hari ini, dengan meterai Roh Kudus, kalian akan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk perjalanan itu, untuk perjumpaan dengan Yesus itu. Ambil keberanian, jangan takut! Hidup adalah perjalanan ini. Dan hadiah yang paling indah adalah untuk bertemu Yesus. Majulah, beranilah!
Dan sekarang, mari kita lanjutkan dengan Sakramen Penguatan.
9. Mereka yang menerima Firman Allah dan taat kepada Roh-Nya sampai ke tujuan!
Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Misa Kepausan untuk Arwah Para Uskup dan Kardinal:Dalam suasana spiritual di bulan November ini, yang ditandai dengan kenangan akan umat beriman yang telah meninggal, kita mengingat saudara kita para Kardinal dan para Uskup dari seluruh dunia yang telah kembali ke Rumah Bapa dalam tahun lalu. Sebagaimana kita persembahkan Ekaristi Kudus ini untuk masing-masing dari mereka, mari kita mohon kepada Tuhan untuk memberikan mereka pahala surgawi yang telah dijanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang baik dan setia.
Kita telah mendengarkan kata-kata St Paulus: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun semua ciptaan lainnya, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita “(Rm 8:38-39).
Rasul menyajikan kasih Allah sebagai alasan menarik yang terdalam dan terutama bagi kepercayaan dan pengharapan Kristiani. Dia mencatat kekuatan-kekuatan yang berlawanan dan misterius yang dapat mengancam perjalanan iman. Tapi segera dia menyatakan dengan keyakinan bahwa bahkan jika seluruh hidup kita dikelilingi oleh ancaman-ancaman, tidak ada yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus sendiri yang telah diperoleh bagi kita dengan pemberian total diri-Nya. Bahkan kekuatan-kekuatan setan, yang memusuhi manusia, berdiri tak berdaya di hadapan persatuan mesra dari kasih yang terjalin antara Yesus dan siapa saja yang menerima Dia di dalam iman.
Realitas kasih setia yang Allah punya untuk masing-masing dari kita ini membantu kita untuk menghadapi perjalanan hidup sehari-hari, yang kadang-kadang berlalu dengan cepat dan pada waktu lain adalah lambat dan melelahkan, dengan ketenangan dan kekuatan.
Hanya dosa manusia dapat mematahkan ikatan ini, namun bahkan dalam hal ini Allah akan selalu mencari manusia, Dia akan mengejarnya dalam upaya membangun kembali sebuah persatuan dengan Dia yang bertahan bahkan setelah kematian; memang, sebuah persatuan yang mencapai puncaknya di akhir perjumpaan dengan Bapa. Kepastian ini memberikan arti baru dan penuh kepada kehidupan duniawi dan membuka kita kepada pengharapan akan kehidupan setelah kematian.
Pada kenyataannya, setiap kali kita dihadapkan dengan kematian dari seorang yang dicintai atau seseorang yang kita kenal dengan baik, muncul pertanyaan dalam diri kita: “Apa yang akan terjadi dalam hidupnya, karyanya, pelayanannya dalam Gereja?” Kitab Kebijaksanaan memberitahu kita: mereka berada di tangan Allah! Tangan-Nya merupakan sebuah tanda sambut kedatangan dan perlindungan, itu adalah sebuah tanda dari sebuah hubungan pribadi dari rasa hormat dan kesetiaan: memberikan tangan, menjabat tangan seseorang. Sekarang, para pastor yang giat bersemangat ini yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk melayani Allah dan saudara-saudara mereka, berada di tangan Allah. Semua yang yang memprihatinkan mereka dirawat dengan baik dan tidak akan berkarat oleh kematian. Semua hari-hari mereka, yang ditenun oleh mereka dengan sukacita dan penderitaan, pengharapan dan perjuangan, kesetiaan kepada Injil dan kepenuhan hasrat bagi keselamatan rohani dan materi dari kawanan yang dipercayakan kepada mereka, berada di tangan Allah.
Bahkan dosa-dosa mereka, dosa-dosa kita, berada di tangan Allah; tangan-tangan-Nya yang penuh belas kasihan, tangan-tangan-Nya yang “terluka” demi kasih. Hal tersebut bukanlah secara kebetulan bahwa Yesus berniat memelihara luka-luka itu di tangan-Nya untuk memungkinkan kita mengetahui dan merasakan belas kasihan-Nya. Dan ini adalah kekuatan kita, pengharapan kita. Kenyataan ini, kepenuhan pengharapan, adalah harapan dari akhir kebangkitan-Nya, dari kehidupan kekal yang kepadanya “keadilan” itu, mereka yang menerima Firman Allah dan taat kepada Roh-Nya, sampai pada tujuan.
Hal ini adalah bagaimana kita ingin mengingat saudara kita, para Kardinal dan Uskup yang telah meninggal dunia. Ketika para pria telah mengabdikan dirinya kepada panggilan mereka dan kepada pelayanan mereka untuk Gereja, yang telah mengasihi sebagai seseorang yang mengasihi seorang mempelai. Dalam doa mari kita percayakan mereka kepada belas kasihan Tuhan, melalui perantaraan Bunda Maria dan St Yusuf, agar semoga Ia menerima mereka ke dalam Kerajaan terang dan damai-Nya, di mana keadilan dan mereka yang menjadi saksi setia Injil, hidup abadi. Dan marilah kita juga berdoa untuk diri kita sendiri, semoga Tuhan mempersiapkan kita untuk perjumpaan ini. Kita tidak tahu tanggalnya, tapi kita tahu benar bahwa perjumpaan itu akan datang.
10. Kita berhutang banyak kepada Bunda Maria!
Berikut adalah khotbah Paus Fransiskus pada Doa Malam bersama dengan Komunitas Benediktin Calmadolese:Mari kita renungkan seseorang yang mengenali dan mencintai Yesus [sedemikian rupa] seakan tiada lagi makhluk lain sepertinya. Injil yang telah kita dengar mengungkapkan cara mendasar Maria mengekspresikan kasihnya bagi Yesus: dengan melakukan kehendak Allah. “Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga dialah saudara-Ku laki-laki, dan saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku” (Mat 12:50). Dengan kata-kata ini Yesus meninggalkan kita sebuah pesan penting: kehendak Allah adalah hukum tertinggi yang menetapkan dengan setia milik-Nya. Itulah bagaimana Maria membina sebuah ikatan kekeluargaan dengan Yesus bahkan sebelum melahirkanNya. Dia pantas menjadi murid dan ibu bagi Sang Putera pada saat dia menerima kata-kata dari Malaikat dan berkata: “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kata “jadilah” ini adalah bukan hanya merupakan sikap menerima, tetapi juga sebuah keterbukaan dengan penuh kepercayaan akan masa depannya. Kata “jadilah” ini adalah pengharapan!
Maria adalah ibu pengharapan, ikon yang paling sepenuhnya mengekspresikan pengharapan Kristiani. Keseluruhan hidupnya adalah serangkaian episode pengharapan, yang dimulai dengan “ya”-nya pada saat menerima kabar gembira. Maria tidak tahu bagaimana dia bisa menjadi seorang ibu, tetapi dia telah mempercayakan dirinya secara total kepada misteri yang hendak dipenuhi, dan dia menjadi wanita harapan dan pengharapan. Kemudian kita lihat dia di Betlehem, di mana Seseorang yang telah dinyatakan kepadanya sebagai Juruselamat Israel dan sebagai Mesias lahir dalam kemiskinan. Yang belakangan, ketika dia berada di Yerusalem untuk memperlihatkanNya di dalam Bait Allah di tengah kegembiraan Simeon tua dan Anna, sebuah tanda akan terjadinya sesuatu juga dibuat bahwa sebuah pedang akan menembus hatinya dan seorang penubuat meramalkan bahwa Dia akan menjadi sebuah tanda pertentangan. Maria menyadari bahwa misi dan identitas yang luar biasa dari Sang Putera ini melebihi keibuannya sendiri. Kita lalu sampai pada episode Yesus yang hilang di Yerusalem dan kemudian dipanggil kembali: “Puteraku, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?” (Luk 2:48), dan pada jawaban Yesus yang menghapus kecemasan keibuan Maria dan mencurahkan [isi hati] hal-hal tentang Bapa Surgawi-Nya.
Namun dalam menghadapi semua kesulitan dan kejutan dalam rencana Allah ini, pengharapan sang Perawan [Maria] tidak pernah goyah! Wanita pengharapan. Hal ini memberitahu kita bahwa pengharapan dipelihara dengan pendengaran, kontemplasi, dan kesabaran, sampai waktu dari Tuhan itu matang. Selain itu pada pesta perkawinan di Kana, Maria adalah ibu pengharapan, yang memberi perhatian dan kecemasannya terhadap urusan-urusan manusia. Dengan permulaan dari pelayanan publik-Nya, Yesus menjadi Guru dan Mesias: Bunda Maria memandang misi Puteranya dengan kegembiraan yang sangat besar tetapi juga dengan kekuatiran akan terjadi sesuatu, karena Yesus menjadi semakin jelas menandakan pertentangan yang diramalkan oleh Simeon tua itu. Di kaki Salib [Kristus], dia ialah wanita berduka dan sekaligus [wanita] harapan yang hati-hati terhadap sebuah misteri yang jauh lebih besar daripada kesedihan yang akan segera dipenuhi. Tampaknya bahwa segala sesuatu telah berakhir; setiap pengharapan bisa dikatakan telah padam. Maria juga, pada saat itu, yang mengingat janji-janji Khabar Sukacita bisa mengatakan: mereka tidak menjadi kenyataan, aku tertipu. Tapi Maria tidak mengatakan ini. Dan oleh karena itu dia yang diberkati karena dia telah percaya, melihat bunga dari imannya sebuah masa depan yang baru dan menantikan hari esok Allah dengan harapan. Kadang-kadang saya pikir: tahukah kita bagaimana untuk menunggu hari esok Allah? Atau apakah kita menginginkan hal itu hari ini? Bagi Maria hari esok Allah adalah sang fajar dari Paskah di pagi hari, sang fajar di hari pertama dalam minggu itu. Hal ini akan menjadikan kita baik untuk berpikir, dalam kontemplasi, akan pelukan ibu dan Puteranya. Satu-satunya cahaya yang menyala di makam Yesus adalah pengharapan ibu-Nya, yang pada saat itu merupakan pengharapan dari semua manusia. Saya bertanya pada diri sendiri dan saya bertanya pada kalian: apakah cahaya ini masih menerangi dalam biara-biara? Dalam biara-biara kalian apakah kalian sedang menunggu hari esok Allah?
Kita berhutang begitu banyak kepada Ibu ini! Dia hadir di setiap saat dalam sejarah keselamatan, dan di dalam dirinya kita melihat sebuah kesaksian teguh terhadap pengharapan. Dia, ibu pengharapan, mendukung kita di saat-saat kegelapan, kesulitan, keputusasaan, [di saat-saat] yang tampaknya kalah atau manusia sejati kalah. Semoga Maria, pengharapan kita, menolong kita untuk membuat hidup kita sebuah persembahan yang menyenangkan Bapa Surgawi, dan sebuah karunia yang penuh sukacita bagi para saudara-saudari kita, di dalam sebuah sikap yang selalu sangat mengharapkan hari esok.
(AR)
Paus Fransiskus,
Biara Santo Anthony Abbas, 21 November 2013
Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Tidak ada komentar:
Posting Komentar