PASKAH SEKAMI 2019
Paskah merupakan suatu momentum yang sangat penting, yaitu tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini, Sekami Paroki St. Petrus Rasul Parepare, mengambil langkah untuk membuat suatu momen yang tek terlupakan bagi para anak-anak Sekami. mereka berkesempatan untuk melakonkan Kematian dan Kebangkitan Yesus. Pada tanggal 1 Mei 2019, Sekami Parepare, berhasil menggunggah hati para orang-orang tua dan semua umat di Paroki St. Petrus Rasul Parepare, dengan peran yang sangat cemerlang. Dan sesudah itu Sekami Parepare, sembari membuat acara yang bertajuk persembahan dan diikuti oleh Sekami dari Stasi Pinrang.
Drama Kisah Sengsara Yesus dan Kebangkitan diperankan oleh anak SEKAMI PAREPARE
Para Pembina Sekami Parepare
Para Pemeran Drama Paskah
Acara Persembahan Paskah Sekami, Diikuti oleh PPA & Sekami Stasi Pinrang
Itulah serangkaian acara Sekami Parepare. Selamat Paskah, Salam Misioner.
SEKAMI PAROKI St. PETRUS RASUL PAREPARE
Kamis, 02 Mei 2019
Selasa, 31 Oktober 2017
Perjumpaan Iman dan Akal Budi
“Karena itu di
rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan
orang-orang yang takut akan Allah…dan juga beberapa ahli pikir dari
golongan Epikuros dan Stoa” (Kis 17:17-18)
Kalimat di atas menunjukkan bahwa sejak zaman para Rasul: awal
pewartaan iman kristiani telah terjadi perjumpaan iman dengan
aliran-aliran filsafat yang berkembang saat itu. Dalam teks Kis.
17:17-18 diperlihatkan bagaimana mereka mengadakan diskusi tentang iman
dan akalbudi (ilmu pengetahuan) untuk mencari kebenaran. Para rasul dan
jemaatnya berdiskusi bahkan berdebat dengan para ahli filsafat seperti
Stoa dan Epikuros.
Ilmu membebaskan dari ketakutan (Epikuros)
Epikuros adalah seorang filsuf Yunani yang dilahirkan tahun 341 SM.
Epikuros berbeda dengan Aristoteles yang mengutamakan penyelidikan
ilmiah. Epikuros menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dan
penyelidikan ilmu yang sudah dikenal sebagai alat untuk membebaskan
manusia dari ketakutan agama. Ketakutan terhadap agama dimaksud adalah
adanya rasa takut kepada dewa- dewa yang ditanam dalam hati manusia oleh
agama orang Yunani lama. Menurut Epikuros ketakutan kepada agama itulah
yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Jadi
aliran filsafat Epikuros diarahkan kepada satu tujuan memberikan jaminan
kebahagiaan kepada manusia. Bagi Epikuros logika melihat kehidupan
adalah semua yang kita pandang/ lihat itu adalah benar. Logika harus
melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria tentang apa itu
kebenaran. Pandangan adalah kritetia yang paling tinggi untuk menentukan
kebenaran. Kebenaran dicapai dengan pemandangan dan pengalaman.
Pemikiran kedua Epikuros adalah fisika. Teori fisika diciptakan oleh
manusia untuk membebaskan manusia dari kepercayaan sia-sia kepada
dewa-dewa. Dia berpendapat bahwa dunia ini bukan dijadikan dan dikuasai
oleh dewa-dewa melainkan oleh gerakan hukum fisika. Segala yang terjadi
dan dipandang di dunia ini disebabkan oleh penyebab kausal dan mekanis.
Manusia harus merdeka menentukan nasibnya sendiri dan tidak dikuasai
oleh dewa-dewa. Epikuros dalam Kisah Para Rasul itu berdebat dengan
orang beriman soal kehadiran Allah. Epikuros dengan tegas mengajarkan
bahwa manusia sesudah mati tidak hidup lagi (bertentangan dengan paham
iman Kristiani yang percaya adanya kebangkitan orang-orang mati). Hidup
adalah peristiwa yang sementara saja yang tidak bernilai harganya, maka
hidup ditujukan untuk mencari kesenangan. Pemikiran ketiga dari Epikuros
adalah etik. Ajaran etik tidak terlepas dari ilmu fisika yang ia
ciptakan. Pokok ajaran etikanya adalah mencari kesenangan hidup, yang
diartikan sebagai kesenangan ragawi dan kepuasan batin.
Penyempurnaan moral manusia (Stoa)
Stoa dalam Kisah para rasul 17:17-18 adalah seorang filsuf Yunani
yang hidup tahun 340 SM. Dia seorang saudagar yang belajar filsafat di
akademi dibawah pimpinan Xenocrates murid Plato yang terkenal. Stoa
artinya ruangan, karena di ruangan penuh ukiran dia mengajarkan pelbagai
ilmu pengetahuan. Tujuan utama dari ajaran Stoa adalah menyempurnakan
moral manusia. Pokok ajaran filsafat Stoa adalah bagaimana manusia hidup
selaras dengan keharmonisan dunia sehingga kebajikan adalah akal budi
yang lurus. Akal budi yang sesuai dengan keselarasan/ keharmonisan
dunia. Pada akhirnya manusia akan mencapai citra hidup manusia yang
bijaksana yaitu hidup sesuai dengan jalan pikir alam semesta. Tentang
logika, pemikiran Stoa tidak jauh berbeda dengan Epikuros yakni untuk
memperoleh kriteria tentang kebenaran. Kebenaran adalah pemandangan yang
menggambarkan barang yang dipandang sehingga orang yang memandang itu
membenarkan dan menerima isi yang dilihatnya. Fisika kaum Stoa memberi
pelajaran tentang alam tetapi juga tentang Teologi. Tentang etik Stoa,
ini adalah inti dari filsafatnya. Maksud etiknya adalah mencari
dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian
melaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Kemerdekaan moral
seseorang adalah dasar dari segala etik Stoa.
Iman dan Akal budi saling melayani
Pengetahuan kodrati dari Epikuros dan Stoa dapat menjerumuskan
manusia ke dalam paham atheis, dengan pandangan mereka yang menolak
adanya paham kebangkitan orang-orang mati. Epikuros dan Stoa memiliki
pandangan yang hedonis, yaitu mencari kesenangan badani dalam hidup, dan
ini berlawanan dengan ajaran iman kristiani. Sebagai umat kristiani
kita tidak boleh melupakan dua hal pokok menanggapi pelbagai kemajuan
akal budi manusia yakni pengertian kodrati akan Allah dan suara hati
nurani. Seperti ditulis dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma.
“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka,
sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka… Apa yang tidak nampak
dari pada-Nya yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya dapat
nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga
mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1: 19-20). Perjumpaan akal budi
(pengetahuan) dalam aliran filsafat sejak Gereja perdana dengan Teologi
(pewartaan iman Kristiani) menjadi penting untuk disimak. Pemikir
Kristiani bersikap kritis dalam menjawab gagasan filsafat Yunani. Adalah
Origenes [Bapa Gereja di abad ke-2] yang menggunakan filsafat Platonis
untuk menyusun argumen dan bentuk teologi Kristiani. Dia unggul dalam
menangkis serangan filsuf Yunani dengan gagasan Teologi yang bernalar
rasional. Kebenaran ilmu pengetahuan bertumpu pada akal budi tetapi
teologi Kristiani bertumpu pada wahyu Kristiani. Kebenaran kristiani
membawa penyelamatan dan berpuncak pada pewahyuan tentang Kristus.
Karena itu perjumpaan ilmu pengetahuan (akal budi) dan pemahaman akan
Allah (Teologi) harus saling melayani dan mendukung. Sebab jika tidak,
keduanya akan menuai kepicikan dan ketimpangan ilmu yang bertujuan untuk
kesejahteraan dan kebaikan umat manusia.
Apa artinya menjadi Katolik?
“Kamu masih Katolik?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini
pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh teman masa
kecil saya. Sewaktu remaja dulu, kami pernah sama-sama aktif di paroki,
menjadi anggota Legio Mariae dan anggota salah satu koor di paroki kami.
Kini ia telah berpindah ke gereja non-Katolik, karena konon ia lebih
dapat bertumbuh secara rohani di sana. Dia begitu antusias mengisahkan
pengalaman barunya di komunitas tersebut, dan kemudian menanyakan
pertanyaan yang mengusik hati saya, “Kalau kamu bagaimana, masih
Katolik, ya?” Seolah menjadi Katolik itu sesuatu keputusan yang kurang
tepat dan harus diubah. Saya menjawabnya lirih, “Ya, saya masih Katolik,
dan saya akan tetap Katolik….” Tapi saya tidak tahu bagaimana
melanjutkan kalimat itu. Saya bersyukur, seiring dengan berjalannya
waktu, melalui ajaran iman dan pengalaman hidup, sedikit demi sedikit,
kutemukan jawabannya….
Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya
Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi
Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut
sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita
ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang
mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya
secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus
ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita.
Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki
kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih
dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan
Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah
menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada
persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi
seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya
menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.
Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II,[1] Katekismus[2], dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II[3]
adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur
pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan
kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat
kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan
Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan
kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan
sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita
percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai
sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang
mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang
diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan
ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh
cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka
atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang
diwahyukan-Nya itu.”
Keempat Tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, apostolik
Iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita percaya,
telah berbicara melalui Kristus, Putera-Nya (lih. Ibr 1:1-4). Sebab
Allah mewahyukan bahwa Ia yang dalam Perjanjian Lama juga disebut
sebagai Yahweh, Adonai, atau Yehovah, adalah satu dan sama hakekatnya
dengan Yesus Kristus, sebab Kristus mengatakan, “Bapa dan Aku adalah
satu.” (Yoh 10:30). Kristus yang sama ini mendirikan Gereja-Nya (lih.
Mat 16:18) yang oleh kuasa Roh Kudus, diberi karunia kesatuan,
kekudusan, keseluruhan dan kesinambungan dengan jalur apostolik di
sepanjang sejarah. Dengan mendirikan Gereja-Nya, dan memberikan kuasa
kepada Gereja untuk membaptis dan mengajarkan semua perintah-Nya (lih.
Mat 28:19-20), Kristus menjadikan Gereja sebagai sarana yang perlu untuk
keselamatan.
Peran Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan, di mana Allah
terus melaksanakan karya penyelamatan-Nya, secara sempurna dinyatakan
dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Gereja lahir
dari Ekaristi, dan Ekaristi lahir dari Gereja. Sebab Gereja lahir/
memperoleh hidupnya dari pengorbanan Kristus. Sakramen-sakramen sebagai
peringatan akan pengorbanan Kristus itu- terus menghidupi Gereja, dan
Gereja terus menghadirkannya.[4]
Tanda apostolik menjamin kesatuan, kekudusan dan kekatolikan Gereja
Mungkin ketiga tanda Gereja yaitu satu, kudus dan katolik
(universal), lebih mudah diterima, daripada tanda yang terakhir, yaitu
apostolik. Namun sejujurnya tanda yang keempat ini merupakan tanda yang
paling jelas menunjukkan bahwa seperti halnya dahulu Kristus hadir
secara aktif di tengah para Rasul, kini, Ia-pun hadir secara aktif di
tengah Gereja-Nya. Meskipun Ia sudah bangkit dan naik ke surga, Kristus
tetap hadir dan melanjutkan misinya di dunia, di dalam Gereja dan
melalui Gereja. Maka ada hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus
dan Gereja. Gereja itu satu, kudus dan katolik, sebab Kristus itu satu,
kudus dan katolik, dan Ia kini tetap hadir dalam Gereja-Nya sampai akhir
zaman.
Bahwa Kristus dapat hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai cara,
namun ada satu cara yang dikehendaki-Nya, dan menjadi pusatnya. Pusat
ini adalah kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi, yang menjadi
sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani (lih. KGK 1324).
Iman Katolik mengajarkan bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan
antara sifat apostolik dengan kehadiran Kristus yang nyata dalam
Ekaristi. Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, menjadi tanda yang
menghubungkan Gereja masa kini dengan Gereja di zaman para Rasul.
Sebagai prinsip yang menyatukan, Paus menjamin kesatuan kolese para
Uskup -yang adalah penerus para Rasul- yang menjadi tanda kesatuan
antara Gereja partikular/ lokal dengan Gereja universal. Kesatuan ini
bukan hanya semata saling mengakui keberadaan masing-masing, atau
sebagai hasil hubungan timbal balik antara gereja-gereja. Namun kesatuan
ini adalah kesatuan yang timbul dari dalam, yang hasilnya adalah
hadirnya Gereja universal dengan semua elemen dasarnya, di dalam setiap
gereja-gereja partikular tersebut.
Kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja, secara khusus dalam
Ekaristi dijamin oleh karunia sifat apostolik yang melayani ketiga tanda
Gereja: kesatuan, kekudusan dan kekatolikan. Kristus yang hadir secara
aktif atas kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi para rasul dan para
penerus mereka, itulah yang menjadikan Gereja sebagai sakramen kesatuan
dan keselamatan bagi umat manusia. Ekaristi dan kesatuan dalam
kepemimpinan Paus bukanlah akar yang terpisah bagi kesatuan Gereja,
sebab Kristus menentukan keduanya untuk saling berhubungan satu sama
lain. Kepemimpinan Paus adalah satu, seperti Ekaristi adalah satu: yaitu
satu Korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Maka dalam
setiap perayaan Ekaristi, dilakukanlah dan ditunjukkanlah kesatuan,
tidak saja dengan Uskup sebagai penerus para Rasul, tetapi juga dengan
Paus sebagai penerus Rasul Petrus sang pemimpin para Rasul, dengan semua
imam dan semua umat beriman yang adalah anggota Kristus, dan di atas
semua itu, dengan Kristus yang adalah Kepalanya.
Menjadi Katolik artinya mempercayakan diri kepada Tuhan melalui Gereja
Gereja Katolik memahami peran otoritas apostolik sebagai iman akan
janji Kristus yang akan menyertai Gereja-Nya, yang dibuktikan juga oleh
banyak tanda sepanjang sejarah, yang menunjukkan betapa Kristus menjaga
Gereja dan menghindarinya dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Oleh iman
inilah, kita menyerahkan diri kepada Allah melalui Gereja, sebab
demikianlah yang dikehendaki oleh Allah.
Prinsip pengantaraan Gereja ini bukanlah hal yang baru atau
mengada-ada. Sepanjang sejarah umat pilihan, Allah menghendaki bahwa
kesetiaan kepada-Nya diukur juga dari kesetiaan kepada para nabi atau
pengantara yang ditunjuk olah-Nya. Setia kepada Allah di zaman
Perjanjian Lama, berarti juga setia kepada Nabi Musa. Keduanya tak
terpisahkan, sebagaimana tertulis dalam Kel 14:31. Kesetiaan kepada para
nabi berarti penerimaan terhadap apa yang dikatakan oleh mereka. Tuhan
menganggap bahwa penolakan terhadap ajaran para nabi merupakan penolakan
terhadap-Nya, seperti nyata dalam penolakan terhadap Nabi Yeremia (lih.
Yer 7:25-26). Di masa Yohanes Pembaptis, jawaban “Ya” terhadap
panggilan Tuhan dinyatakan dengan persetujuan untuk dibaptis (lih. Mrk
1:4; Luk 3:3) dan penerimaan terhadap pesannya yang memberitakan
kedatangan Kristus, Sang Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:29,36).
Kristus menghubungkan penerimaan ataupun penolakan terhadap diri-Nya
dan Bapa yang mengutus-Nya, dengan penerimaan ataupun penolakan terhadap
mereka yang diutus oleh-Nya (lih. Luk 10:16). Maka Gereja mengajarkan
bahwa kesetiaan kepada Kristus ditunjukkan dengan penerimaan keseluruhan
kehendak-Nya (lih. Mat 28:19-20), termasuk pengantaraan Gereja
apostolik yang didirikan-Nya (lih. Mat 16:16-19). Dengan kata lain,
persetujuan iman terhadap Kristus mengambil bentuk konkritnya dalam
persetujuan terhadap semua yang telah dinyatakan dan didirikan oleh-Nya,
termasuk Gereja-Nya.
Menjadi Katolik artinya setia kepada Tuhan, Kristus, Gereja dan diri sendiri
Rasul Yohanes mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari
kesetiaan kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu
ilahi sejak awal mula (lih. 1 Yoh 2:24). Jika Allah menghendaki agar
kita menerima ajaran-Nya dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai
puncaknya pada penggenapannya dalam diri Kristus, kita menerima kehendak
Allah ini, dengan menerima Kristus sepenuhnya. Sebab Kristus sepenuhnya
menyatakan Allah dan kasih-Nya kepada kita (Kol 1:19; 2:9), sehingga
Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah segalanya (lih. Kol 3:11).
Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini termasuk dengan menerima segala
ajaran-Nya dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. Jika Kristus
menjamin kuasa mengajar Gereja yang dilaksanakan oleh para rasul, secara
khusus, oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, maka demi ketaatan
kita kepada Kristus, kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut.
Sebab kita mengingat perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya,
“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa
menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak
Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).
Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus dan ajaran-Nya ini,
maka seorang Katolik memberikan kata “Ya” tanpa syarat dalam iman
kepada Allah. Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, menjadi
tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita sebagai manusia yang
senantiasa resah/ gelisah, sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5]
Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita kepada Kristus melalui
Gereja-Nya, kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan banyak hal
menurut pemahaman sendiri, yang dapat berbeda-beda antara satu orang
dengan yang lain, bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran
yang sama. Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, kita memperoleh
kepenuhan makna ajaran Kristus, dan ini menghasilkan ketenangan bagi
jiwa. Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home di situs
EWTN (Eternal Word Television Network) yang mengisahkan tentang
pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik, silakan klik.
Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian dari mereka yang
non-Katolik, bahkan banyak di antaranya pendeta, yang akhirnya menjadi
Katolik karena setia mencari apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka
sendiri, yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka yang sesungguhnya
di Gereja Katolik.
Menjadi Katolik artinya menjadi anggota Gereja yang lahir dari Hati Kudus Yesus
Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu
mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan
kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. Ia
mengajarkan demikian:
“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih,
jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna
lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan
bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. Dari
kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air
pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh
Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi
mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk
Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. Nabi Musa telah
memberikan secercah tanda tentang hal ini, ketika ia menceritakan kisah
tentang manusia pertama dan membuat Adam mengatakan: “Tulang dari
tulangku dan daging dari dagingku!” Sebagaimana Tuhan mengambil sebuah
tulang rusuk dari rusuk Adam untuk membentuk seorang perempuan,
demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita darah dan air dari
rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut
ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus
memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.
Maka, tidakkah kamu mengerti, betapa Kristus telah mempersatukan
Mempelai-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan santapan apakah yang Ia
berikan kepada kita semua untuk kita makan? Dengan santapan yang satu
dan sama, kita dilahirkan dan diberi makan. Seperti seorang wanita
memberi makan anaknya dengan air susu dan darahnya sendiri, demikianlah
Kristus terus menerus memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka yang
kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.”[6]
Sudah lama saya mendengar bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus,
tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya hubungan Kristus dengan
Gereja-Nya, sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini.
Kristus adalah Adam yang baru, dan Gereja adalah Hawa yang baru, yang
dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, yang dihubungkan juga dengan hati
kudus-Nya—sebab maksud prajurit itu menikam adalah menikam jantung hati
Kristus, untuk memastikan kematian-Nya. Hubungan Kristus dan Gereja
sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah
Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.
St. Yohanes Krisostomus bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan
bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, sebagaimana Hawa dari tubuh Adam.
St. Irenaeus (abad ke-2) mengajarkan bahwa Gereja bagaikan aliran mata
air yang mengalir dari tubuh Kristus, dan dari air ini kita memperoleh
santapan kehidupan.[7] St. Ambrosius juga mengajarkan demikian, sebagaimana dikutip dalam Katekismus:
KGK 766 Tetapi Gereja muncul terutama karena penyerahan diri
Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam
penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan
pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir
dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”[8] “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”[9]
Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian
Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib.[10]
Pengajaran para Bapa Gereja ini membuka mata rohani saya, bahwa sejak
awal mula, Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan
mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya di dalam Kristus dan
Gereja. Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘
buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam
diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. Sebagaimana
manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah,
demikianlah Kristus dan Gereja menjadi puncak karya keselamatan Allah.
Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna dalam diri
Bunda Maria, maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para
Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab
Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat
manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.
KGK 760 “Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama.[11]
Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan
ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan
dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja. Gereja adalah tujuan
segala sesuatu.[12]
Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, seperti jatuhnya
para malaikat dan dosa manusia, hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab
dan sarana, untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya dan
menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:
“Sebagaimana kehendak Allah adalah satu karya dan bernama dunia,
demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, dan ini namanya
Gereja.”[13]
Gereja yang dimaksud di sini adalah satu-satunya Gereja yang
didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan bahwa
Kristus menjamin akan menyertainya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).
Sebagaimana hanya ada satu Hawa yang dibentuk dari Adam, demikian pula
hanya ada satu Gereja yang dibentuk dari Kristus. Maka Gereja tak pernah
terpisah dari Kristus. Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri oleh
beberapa orang beriman, dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus.
Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus dan dibentuk sendiri oleh
Kristus, yang ditandai oleh darah dan air yang mengalir keluar dari
lambung-Nya yang terluka di kayu salib. Maka rencana Allah untuk
mempersatukan seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula,
namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat Gereja dibentuk dari air
dan darah yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. Gereja
ini kemudian ditampilkan kepada dunia pada hari Pentakosta, dengan
datangnya Roh Kudus.[14]
Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus,
yang masih ada sampai sekarang di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus
adalah Gereja Katolik. Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, dan
yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, maka sudah selayaknya saya
memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.
Maka menjadi Katolik bagi saya tidaklah semata suatu kebetulan,
karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. Saya menjadi Katolik
karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, yang telah mewahyukan melalui
Kristus, segala ajaran-Nya dan undangan-Nya untuk bersatu dengan-Nya dan
dengan sesama umat manusia, di dalam Kristus dan melalui Gereja yang
didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.
[1]Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum
5: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan
“ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah
manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan
mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya
kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima
sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat
beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta
menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan
membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada
semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”.
Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga
senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.
[2]Lih.
KGK 143: “Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan
kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui
Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5). Kitab Suci menamakan
jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan
iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26). Dan KGK 144: “Taat [ob-audire]
dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang
didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah
kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci
menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas
cara yang paling sempurna.
[3]Lih. Paus Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum,
Maret 13, 1985: “Percaya berarti menerima dan mengakui sebagai
kebenaran dan kesesuaian dengan kenyataan, isi dari apa yang dikatakan,
yaitu, isi dari yang dikatakan oleh seseorang yang lain (atau beberapa
orang yang lain) karena kredibilitas orang itu. Maka, dengan mengatakan
“Aku percaya”, kita menyatakan dua buah acuan pada saat yang sama:
kepada orangnya, dan kepada kebenaran [yang dikatakan]-nya; kepada
kebenarannya dengan memperhatikan pribadi orang yang mempunyai
kredibilitas yang istimewa tersebu.”
[4]Lih.
KGK 1118: Sakramen-sakramen adalah Sakramen “Gereja” dalam arti ganda,
karena mereka ada “melalui dia” dan “untuk dia”. Mereka ada “melalui
Gereja” karena Gereja adalah Sakramen karya Kristus, yang bekerja di
dalamnya berkat perutusan Roh Kudus. Dan mereka itu “untuk Gereja”;
mereka adalah “Sakramen-sakramen, yang olehnya Gereja didirikan”
(Agustinus, De civ. Dei 22,17, Bdk. Thomas Aquinas, Summa Theologica III,64,
2 ad 3), karena mereka memberikan dan membagi-bagikan kepada manusia,
terutama dalam Ekaristi, misteri persekutuan dengan Allah, Dia yang
adalah cinta kasih, Dia yang esa dalam tiga Pribadi.
[5]St. Augustine, Confessions (Lib 1,1-2,2.5,5: CSEL 33, 1-5): “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you.”
[6]St. John Chrysostom, A Homily for Holy Friday, The Blood and Water from His side, (+ AD 407).
[7]St. Irenaeus, Adversus Haereses,
III, 24, 1: PG 7, 966 mengajarkan: “Mereka yang tidak mengambil bagian
dalam Roh Kudus, tidak dapat memperoleh dari pangkuan ibu mereka
[Gereja] santapan kehidupan; mereka tak menerima apapun dari mata air
yang murni yang mengalir dari tubuh Kristus.”
[8]Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 3.
[9]Sacrosanctum Concilium 5.
[10]Bdk. Santo Ambrosius, Luc. II, 85-89, PL 15, 1666-1668.
[11]Hermas, Vision. 2,4, 1; Bdk. Aristides, Apol. 16,6; Yustinus, Apol. 2,7.
[12]Bdk. Epifanius, Haer. 1,1,5.
[13]St, Klemens dari Aleksandria, Paed. 1,6,27:PG 8, 281.
[14]Lih.
KGK 767: “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk
ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentakosta, agar ia
senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu
“Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan
dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes
4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu
misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa,
untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6)
Dari mana asalnya Kitab Suci?
Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan
paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau sejumlah orang
meragukannya, ataupun membencinya, namun Kitab Suci tetap terbukti
merupakan buku yang paling banyak dibaca orang sepanjang sejarah.
Walaupun di sepanjang sejarah ada banyak orang bermaksud melenyapkan
Kitab Suci – seperti sejumlah kaisar Romawi di abad-abad awal yang
mengeluarkan dekrit untuk membakar semua Kitab Suci- toh kenyataannya ada saja salinan Kitab Suci yang tetap ‘survive‘ dan Kitab Suci tetap eksis sampai sekarang. Voltaire, seorang seorang tokoh Enlightenment
dari Perancis, yang dikenal karena sikap skeptiknya terhadap Gereja,
konon pernah memperkirakan bahwa di abad ke -19, Kitab Suci akan menjadi
buku antik yang hanya dipajang di museum. Namun faktanya, perkiraan
Voltaire meleset jauh, sebab yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah
wafatnya, nama Voltaire dan tulisannya mungkin hanya dikenal dalam buku
sejarah, tetapi Kitab Suci masih tetap hidup dan dibaca banyak orang
setiap hari, dan menjadi pegangan bagi kehidupan banyak orang, sampai
saat ini.
Bible: Kitab yang suci
Bible berasal dari kata Yunani, biblos atau biblon. Kita mengenal kata ‘bible‘ dalam artinya sekarang dari St. Hieronimus di abad ke-4, yang menyebutnya sebagai “the Holy Books“, atau “the Books“, ta biblia. Persamaan kata dari the Holy Bible adalah the Holy Scriptures, yang mengacu kepada kitab-kitab yang dikenal sebagai sabda Allah yang merupakan satu kesatuan dalam kesinambungan ilahi.
Unik dalam penulisannya, unik dalam pelestariannya
Sejak dari penulisannya sampai juga kepada pelestariannya, Kitab Suci
mempunyai ciri khasnya tersendiri, yang tidak dimiliki oleh buku-buku
lainnya.
Ke- 73 kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam rentang waktu
berabad-abad, sekitar 1600 tahun, yang ditulis oleh sekitar 50 orang
yang berbeda dari negara ataupun tempat yang berbeda. Namun semuanya
menuliskan rencana keselamatan Allah yang mengacu dan mengerucut kepada
Kristus. Kitab-kitab Perjanjian Lama menjabarkannya secara samar-samar,
entah melalui nubuat maupun gambaran tokoh-tokohnya, namun kitab-kitab
Perjanjian Baru menyampaikan penggenapannya secara jelas dan sempurna,
di dalam Kristus Sang Putera Allah yang menjelma menjadi manusia.
Koherensi atau keselarasan semua bagian dari kitab-kitab ini yang
ditulis oleh banyak penulis yang berbeda sepanjang rentang abad yang
cukup panjang- sekitar 17 abad ini- membuktikan bahwa kitab ini bukan
semata karya tulis manusia, namun Allah sendiri-lah yang
menginspirasikan penulisannya.
Buku yang berasal dari perkataan Sabda
Kita hidup di zaman tulisan, entah lewat media buku atau sekarang,
melalui internet. Maka sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa Kitab
Suci itu asalnya adalah dari perkataan lisan. Berikut ini adalah
penjelasan yang disarikan dari buku What is the Bible, karangan Henri Daniel- Rops ((Cf. Henri Daniel- Rops, What is the Bible, The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism, volume 60, (New York: Hawthorn Books, 1959) p. 14-25)):
Kitab Suci kita yang nampaknya relatif seragam sekarang, sebenarnya
berasal dari komponen-komponen yang beragam. Ada saatnya di mana sebelum
kalimat-kalimat tersebut dicetak dalam buku, perkataan tersebut
pertama-tama didaraskan kepada para pendengar oleh para pembawa Kabar
Gembira. Maka jauh sebelum dicetak, Kitab Suci pada awalnya merupakan
ajaran lisan. Bentuknya adalah kisah narasi, yang disampaikan dengan
pola tertentu, yaitu dengan ritme tertentu dan puisi bersajak, rangkaian
kata-kata bijak yang ringkas, ataupun dengan pengulangan kata-kata
tertentu yang sama. Hal ini memungkinkan teks tersebut dapat diturunkan
dari generasi ke generasi, ketika bahasa tulisan belum menjadi alat
komunikasi yang umum. Ini sejalan dengan keadaan budaya, spiritualitas
dan sastra dalam masyarakat di mana Kitab Suci berasal. Kitab Suci
bertumbuh dalam pola masyarakat yang komunal dan tidak individual,
sebagai sesuatu yang spontan dan hidup; jauh berbeda dengan budaya
kertas di zaman modern, di mana bahasa tulisan menjadi sesuatu yang
otomatis dan umum. Agaknya sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ada
suatu zaman dalam sejarah, di mana masyarakat dapat hidup tanpa
ketentuan baku yang tertulis.
Dalam kehidupan masyarakat Israel kuno, sampai zaman Kristus,
keadaannya sangat berbeda dengan zaman kita. Masyarakat saat itu
terbiasa untuk berbicara dengan fasih berdasarkan kemampuan mengingat
akan suatu fakta/ kebenaran. Maka sistem pendidikan saat itu bertujuan
mendidik para murid, agar mempunyai ingatan seperti seumpama sumur, yang
tidak membiarkan setetes-pun dari ajaran gurunya menghilang ke luar.
Maka ini dilihat dari seni menghafal dan menyusun suatu komposisi teks.
Ada ritme ataupun pengulangan kata-kata tertentu, atau kemiripan bunyi,
untuk membantu agar teks menjadi lebih mudah untuk diingat. Kita
mengetahui bahwa ajaran sudah ada jauh sebelum dituliskan, seperti
halnya nubuat-nubuat nabi Yeremia yang sudah diajarkan secara lisan
tujuh puluh dua tahun lamanya sebelum ajaran itu dituliskan dalam kitab.
Demikian juga halnya dengan kitab-kitab nubuat lainnya, kitab Mazmur
dan kitab Kidung Agung.
Namun demikian, bukan berarti bahwa di zaman itu, elemen tertulis
tidak ada sama sekali. Kitab Suci sendiri secara tidak langsung
menyebutkan adanya suatu kitab tertentu. Di kitab Yosua, disebutkan
adanya “Kitab Orang Jujur” (Yos 10:13). Dewasa ini setelah
penemuan-penemuan arkeologis dari Sinai ke Ras Shamra, diketahui adanya
tulisan-tulisan Kitab Suci sejak abad ke-sepuluh dan keduabelas sebelum
masehi. Sejak zaman Nabi Musa di Mesir, tulisan telah menjadi penggunaan
umum di daerah sungai Nil selama lima belas abad. Namun demikian,
elemen-elemen tulisan ini hanya menjadi alat bantu untuk mengingat,
sebelum elemen-elemen tersebut dikompilasikan menjadi kitab-kitab
seperti yang kita kenal sekarang.
Proses yang sama terjadi pada kitab Perjanjian Baru, yaitu Injil,
Kisah Para Rasul, Surat-surat Rasul dan Kitab Wahyu. Surat-surat Rasul
Paulus didiktekan, dan di sini gaya lisan timbul. Juga, kitab-kitab
Injil jelaslah merupakan ajaran lisan, sebelum dituliskan. Generasi
pertama Gereja hidup dari ketergantungan terhadap ajaran lisan ini.
Selama empat atau lima generasi Kristen mendengarkan Injil sebagai kisah
yang diturunkan melalui perkataan lisan, oleh para saksi yang kredibel.
Sekitar tahun 130, ketika keempat pengarang Injil telah menuliskan
kitab-kitab mereka, St. Papias, Uskup Hierapolis di Phyrgia menegaskan
bahwa bagaimanapun juga, ia lebih menghargai suara/ ajaran lisan dari
para Rasul yang telah hidup dan berakar dalam Gereja. ((Cf. St. Papias, Fragment of Papias,
Ch. I. From the Exposition of the Oracles of the Lord, in Ante-Nicene
Fathers: St. Papias berkata, “Maka, jika siapapun yang telah
mendengarkan pengajaran para tua-tua datang, aku bertanya dengan
serinci-rincinya tentang apakah yang mereka ajarkan, – apa yang
dikatakan oleh St. Andreas, atau St. Petrus, atau apakah yang dikatakan
oleh Filipus, atau Tomas, atau Yakobus, atau oleh Yohanes, atau Matius,
atau oleh para murid Tuhan lainnya…. Sebab aku membayangkan bahwa apa
yang harus diperoleh dari kitab-kitab tidaklah sedemikian bergunanya
bagiku, seperti apa yang datang dari suara/ ajaran lisan yang telah
hidup dan menetap.)) Demikian pula, St. Irenaeus di Lyons, mengenang
hari-hari ketika ia biasa mendengarkan St. Polycarpus, Uskup agung
Smyrna, apapun yang didengarnya sendiri dari St. Yohanes Rasul. Namun
demikian, demi kepentingan membimbing mereka yang meneruskan kitab
Injil, dan keinginan untuk menghindari deviasi, kesalahan, distorsi,
maka akhirnya Injil dituliskan.
Transisi menjadi ajaran yang tertulis
Transisi dari ajaran lisan menjadi tulisan juga menyisakan
pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama adalah soal waktu, yaitu pada titik
mana teks tersebut ditulis? Pada teks Perjanjian Lama, terdapat
kemungkinan tiga kali periode penulisan yang intensif: 1) Pada zaman Hezekiah/ Ezechias
(Hizkia) anak Raja Ahaz, kemungkinan ajaran lisan maupun tulisan di
Kerajaan Selatan (Yehuda) disusun, untuk dibandingkan dengan ajaran-
ajaran yang dikumpulkan oleh Kerajaan Utara (Israel), yang dibawa oleh
para ahli Samaritan, yang melarikan diri ke Yerusalem di sekitar tahun
722 SM (lih. Ams 25:2). 2) Di zaman Yosia, ditemukan
kitab Ulangan dan versi lengkap yang pertama dari kelima kitab Musa atau
Pentateuch. Karya ini diselesaikan setelah orang-orang Israel kembali
dari zaman pengasingan, ketika Raja Cyrus (Koresh) di tahun 538
memperbolehkan kaum sisa Israel yang dibuang di Babilon untuk kembali ke
negara mereka dan mendirikan semacam negara kecil di bawah perlindungan
negara Persia. 3) Seperti Nehemia di sekitar tahun 455
membangun kembali tembok Yerusalem, Esdras (Ezra) membangun tembok
benteng rohani, yaitu Bible/ Kitab Suci. Dikatakan bahwa ia mendiktekan
kitab-kitab suci dan membuat bangsa tersebut mengikuti
ketentuan-ketentuannya. Di abad kelima sebelum Masehi ini, versi-versi
kuno yang berupa fragmen dikumpulkan, ajaran lisan dituliskan dan semua
elemen yang bervariasi ini disusun menjadi koheren. Terhadap susunan
Kitab Suci inilah, kemudian ditambahkan sejumlah kecil teks-teks rohani
yang berasal dari abad-abad sesudahnya.
Fakta tentang Kitab Perjanjian Baru, kemungkinan lebih dikenal.
Sebagaimana jelas tertulis di dalamnya, Kisah para Rasul, Surat-surat
dan Kitab Wahyu merupakan teks yang dituliskan atau didiktekan.
Sedangkan untuk keempat Injil, transisi dari perkataan mulut menjadi
kitab terjadi dalam waktu yang berbeda, untuk alasan yang berbeda dan
dalam keadaan yang berbeda. Kesaksian Papias mengatakan demikian:
“Matius adalah yang pertama menuliskan perkataan Tuhan dalam bahasa
Ibrani.” Maka diperkirakan Rasul Matius yang dulunya adalah pemungut
cukai, adalah yang pertama menuliskan Injilnya, di sekitar tahun 50-an
dengan bahasa Aram. Segera setelah itu, St. Petrus, yang saat itu di
Roma, diikuti oleh Markus, seorang muda Yahudi yang mengenal bahasa
Yunani. Dengan mendengarkan Rasul Petrus, Markus menulis apa yang
didengarnya, dan membandingkan catatannya dengan bantuan ingatan banyak
orang/ saksi pada saat itu, dan di tahun 55-62 menuliskan Injilnya.
Injil Markus ini ditulis dalam bahasa Yunani popular dan ditujukan untuk
umat Kristen golongan bawah di Roma. Pada saat yang bersamaan, Lukas,
seorang tabib/ dokter yang terpelajar yang menjadi teman seperjalanan
Rasul Paulus tiba di Roma. Ia telah belajar banyak dari Rasul Paulus dan
sepanjang waktu ia tinggal di Yerusalem telah mengumpulkan informasi
langsung dari para saksi, termasuk kemungkinan dari Bunda Maria sendiri.
Lukas lalu menuliskan Injilnya dalam bahasa Yunani yang sempurna dan
ditujukan pertama-tama kepada orang-orang yang terpelajar yang ada
disekitar Rasul Paulus. Kitab Injil-injil Yunani ini kemudian mulai
dikenal orang, dan Rasul Matius juga kemudian menerjemahkan Injilnya
dari bahasa Aram ke bahasa Yunani, kemungkinan sekitar tahun 64-68.
Sedangkan Injil yang keempat, dari Rasul Yohanes, ditulis di Efesus
setelah ketiga Injil yang lain ditulis. Injil Yohanes merupakan campuran
antara kenangan, dokumentasi dan permenungan spiritual dan biasanya
diperkirakan ditulis pada akhir abad pertama, kemungkinan sekitar 96-98.
Urutan penulisan Injil sedemikian: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes,
dicatat dalam kesaksian St. Irenaeus, murid St. Polycarpus yang adalah
murid Rasul Yohanes. ((lih. St. Irenaeus, Against the Heresies, Book III, ch 1,1))
Dalam bahasa apa Kitab Suci ditulis?
Secara umum terdapat tiga bahasa asli Kitab Suci:
1. Bahasa Ibrani, digunakan dalam kitab-kitab yang berasal dari
tradisi Yahudi. Penemuan Dead Sea Scroll semakin memperkuat hal itu.
Komunitas Essenes masih menggunakan bahasa Ibrani dalam naskah
kitab-kitab mereka.
2. Bahasa Aram, yang berkaitan dengan bahasa Semitik, yaitu dialek
bahasa Ibrani sehari-hari. Kitab yang ditulis dalam bahasa Aram adalah
Injil Matius yang mula-mula, beberapa kitab Esdras (Ezra), Daniel dan
Yeremia.
3. Bahasa Yunani, yang telah digunakan di zaman sesaat sebelum zaman
Kristus -seperti yang digunakan dalam Kitab kedua Makabe dan
Kebijaksanaan Salomo- dan juga di zaman Kristus dan setelahnya, sehingga
kemudian kitab-kitab Kristiani di abad-abad awal ditulis dalam bahasa
Yunani.
Cara penulisan Kitab Suci juga berbeda-beda dari abad yang berbeda.
Tulisan Ibrani kuno tidak sama dengan tulisan Ibrani di zaman sekarang.
Dalam tulisan Ibrani kuno tidak ada tanda-tanda dan titik yang
menunjukkan adanya huruf hidup. Sedangkan tulisan Yunani dalam teks-teks
Kitab Suci lebih mirip dengan tulisan Yunani yang dikenal sekarang,
hanya saja pada teks asli tersebut, para penyalin tidak menyisakan spasi
ataupun pemenggalan, sehingga sering menimbulkan kesulitan tersendiri
untuk membacanya, ataupun untuk menurunkannya ke abad-abad berikutnya.
Pada bahan apa Kitab Suci yang asli ditulis?
Terdapat dua bahan material yang digunakan untuk menuliskan teks Kitab Suci: Yang pertama adalah papyrus, yaitu semacam batang rumput ilalang Mesir, yang diratakan dan gabungkan dengan coating,
menjadi asal usul pembuatan kertas. Material ini lebih murah, namun
lebih tidak tahan lama. Yang kedua adalah bahan dari kulit binatang,
yang sering dikenal dengan sebutan parchment/vellum. Bahan ini lebih tahan lama. Awalnya baik papyrus maupun vellum digabungkan menjadi gulungan (disebut scroll), namun kemudian berkembang penulisan pada lembaran vellum yang disatukan menjadi bentuk buku, dan ini disebut codex. Penyusunan menjadi codex ini sudah dimulai di abad kedua sebelum Masehi, namun kemudian menjadi populer di zaman umat Kristen.
Manuskrip Kitab Suci
Mengingat sifat bahan manuskrip yang relatif tidak tahan lama,
tidaklah mengherankan jika manuskrip asli kitab-kitab Suci telah punah.
Hal ini juga terjadi pada manuskrip kitab-kitab non-religius di zaman
itu, seperti Homer dan Pindar. Yang kita ketahui tentang kitab-kitab itu
hanyalah salinannya. Namun demikian ada kekhususan dari manuskrip Kitab
Suci, jika dibandingkan dengan karya-karya tulis lain sezamannya. Jika
kita membicarakan teks-teks kuno, kita mau tidak mau harus memahami
fakta yang terjadi sebelum ditemukannya mesin pencetak. Teks-teks
tersebut akan diturunkan ke generasi berikutnya dengan salinan-salinan.
Karena disalin secara manual maka memang terdapat bahaya adanya masalah
akurasi dalam proses penyalinan. Hal ini berlaku pada penyalinan
karya-karya sastra zaman kuno secara umum. Mungkin tak banyak orang yang
mengetahui bahwa dalam penulisan karya-karya sastra klasik yang besar,
terdapat interval/ selang waktu yang cukup besar antara saat karya
tersebut disusun oleh pengarangnya dan saat ditemukannya salinan
manuskrip yang pertama. Umumnya selang waktu itu mencapai seribu-an
tahun. Hal ini juga membuktikan suatu fakta bahwa karya-karya sastra
tersebut merupakan suatu warisan lisan yang telah hidup dan berakar
dalam masyarakat tertentu selama berabad-abad, sebelum kemudian menjadi
suatu karya tulis yang diturunkan. Demikianlah yang terjadi pada
karya-karya yang ditulis oleh pengarang Yunani, seperti Sophocles (abad
ke-5 SM), dan juga Aeshylus, Aristophanes,Thucydides, dan Plato, di mana
manuskrip pertama yang diketahui berjarak 1100-1400 tahun dari saat
penyusunan karya tersebut oleh pengarang-nya.
Demikian juga untuk kitab-kitab suci Ibrani. Teks tertua yang
ditemukan, nampaknya adalah teks yang ditemukan di sinagoga di
Karasubazar di Crimea, yang kurang lebih berasal dari tahun 1000-an. Di
awal abad pertengahan para rabbi yang dikenal dengan sebutan Masorete
memberikan perhatian terhadap tugas memperbaiki teks dan pelafalannya,
dengan memberikan tambahan huruf hidup kepada teks Ibrani kuno. Teks ini
kemudian dikenal dengan sebutan Massora. Konsekuensinya,
memang terdapat perbedaan di sana sini antara teks Masoretik ini dengan
sejumlah salinan teks lainnya, juga dari teks yang umurnya lebih tua,
seperti manuskrip Septuaginta. Kitab Septuaginta adalah terjemahan
Yunani (di abad ke-3-2 SM) dari kitab-kitab Perjanjian Lama Ibrani yang
digunakan di Mesir dan Israel, yang kemudian kerap dikutip dalam
Kitab-kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, secara umum, penemuan the Dead Sea Scroll di sekitar 1947, menunjukkan bahwa tingkat akurasi penyalinan kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut sangatlah baik. The Dead Sea Scroll
adalah naskah-naskah kuno -yang mengandung teks-teks Kitab Suci
Perjanjian Lama- yang diperkirakan disembunyikan di gua-gua Qumran
sekitar tahun 66-70, sebelum Jewish War. Teks-teks itu
diperkirakan sudah eksis di abad-abad sebelumnya, yaitu diperkirakan
sejak abad ke-2 atau bahkan ke- 4 sebelum Masehi. Salinan lengkap kitab
Yesaya dan sebagian kitab Kejadian, Ulangan dan Keluaran- menunjukkan
salinan yang sangatlah mirip atau hampir identik dengan teks yang kita
kenal sekarang.
Bagaimana sekarang dengan teks dalam kitab Perjanjian Baru? Fakta
menunjukkan Kitab Suci Perjanjian Baru menunjukkan bukti keotentikan
yang jauh melebihi karya-karya tulis sezamannya. Sebagaimana telah
disinggung di atas, keotentikan suatu tulisan bersejarah, pertama-tama
dilihat dari jangka waktu antara ketika karya itu dituliskan sampai
ketika manuskrip pertama ditemukan. Semakin pendek jangka waktunya, maka
semakin sedikit kemungkinan kesalahan dan korupsi dari kisah kejadian
yang sesungguhnya oleh kesalahan penulisan. Yang kedua, kita dapat
melihat tingkat otentisitas manuskrip dari berapa banyak manuskrip
original yang ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah
kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi
pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan
keotentikan dokumen.
Sekarang mari kita lihat melihat fakta karya tulis yang penting dalam
literatur sejarah, jika dibandingkan dengan teks Injil dan kitab-kitab
Perjanjian Baru:
| Karya tulis | Kapan ditulis | Copy pertama | Jangka waktu | Jumlah copy |
| Herodotus | 488-428 BC | 900 AD | 1,300 | 8 |
| Thucydides | 100 AD | 1100 | 1,000 | 20 |
| Caesar’s Gallic War | 58-50 BC | 900 AD | 950 | 9-10 |
| Roman History | 59 BC-17 AD | 900 AD | 900 | 20 |
| Homer (Iliad) | 900 BC | 400 BC | 500 | 643 |
| Injil dan PB | 38-100 AD | 130 AD | 30-50 | 5000 ++ Yunani, 10,000 Latin, 9,300 bhs lain |
Maka kita melihat bahwa dokumen tentang sejarah Romawi ditemukan
sekitar 900 tahun atau hampir 1 millenium setelah kejadian terjadi, dan
hanya ada 20 copy yang masih eksis. Sedangkan, penemuan arkeologis
membuktikan bahwa manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah
kejadian, dan bahwa terdapat lebih dari 5500 manuskrip asli ((Robert
Stewart. ed, The Reliability of the New Testament: Bart Ehrman and Daniel Wallace in Dialogue,
(Minneapolis: Fortress Press, 2011), p.17.)) dalam bahasa Yunani (dan
sekitar 20,000 non-Yunani) yang eksis. Kitab Injil dan Perjanjian Baru
yang asli seluruhnya dituliskan dalam bahasa Yunani, karena bahasa
Yunani pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai, bahkan oleh
kaum Yahudi. Banyaknya manuskrip Yunani yang asli tersebut dapat
membantu mengidentifikasi adanya kelainan teks dan dengan demikian dapat
diketahui teks aslinya. Banyaknya teks asli Perjanjian Baru juga tidak
mendukung perkiraan bahwa teks tersebut dipalsukan. Sebab seseorang yang
mau memalsukan harus juga mengubah beribu manuskrip yang sudah ada dan
beredar di tempat-tempat yang berbeda.
Dengan melihat tabel di atas, secara obyektif kita melihat bahwa
karya tulis sejarah Romawi bahkan terlihat sangat ‘minim’ jika
dibandingkan dengan Injil, dari segi ke-otentikannya, akurasi dan
integritasnya. Padahal orang zaman sekarang tidak mempunyai kesulitan
untuk menerima sejarah Romawi tersebut sebagai kebenaran. Suatu
permenungan adalah bagaimana Injil yang secara obyektif lebih
‘meyakinkan’ keasliannya dibandingkan sejarah Romawi malah mengundang
perdebatan. Keaslian Injil juga kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja,
seperti St. Klemens (95) sudah mengutip ayat-ayat Injil, berarti pada
saat itu Injil sudah dituliskan, demikian pula Kisah para rasul, Roma, 1
Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Juga di awal abad ke-2,
St. Ignatius (115) telah mengutip ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan
2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.
Dari banyaknya manuskrip asli tersebut, memang banyak orang menyangka
bahwa akan terdapat banyak perbedaan-perbedaan teks. Namun ternyata,
fakta menunjukkan tidak demikian. Tingkat kesesuaian manuskrip
Perjanjian Baru adalah 99.5 % (dibandingkan dengan Homer/ Iliad 95%).
Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada
perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah
doktrin Kristiani.
Memang untuk teks Perjanjian Baru, kita mengenal salinan-salinan dari
zaman yang berbeda, sehingga teks dikelompokkan menjadi tiga golongan,
yaitu dengan istilah minuscule, uncials dan papyri. Minuscules adalah salinan yang diperoleh setelah abad ke-9; pada saat ini, ialah ada semacam standar penulisan teks, dan ini disebut ‘received text‘. Uncials
adalah manuskrip yang ditemukan antara abad ke-4 sampai abad ke-9. Teks
abad ke-4 yang terkenal adalah Codex Vaticanus (yang tersimpan di
Vatikan), Codex Sinaiticus (yang ditemukan di biara Sinai, dan dibawa ke
Rusia dan dijual ke British Museum). Codex Bezae di Cambrigde adalah
dari abad ke-5. Codex itu sampai ke tangan seorang murid Calvin yang
bernama Theodore Beza, dan diberikan kepada Universitas di Cambrigde
tahun 1581. (Selanjutnya tentang banyaknya ragam codex, silakan membaca
di link ini, silakan klik). Sedangkan untuk papyri,
yang terkenal adalah Egerton papyrus, The Chester Beatty papyri dan
papyri yang kemudian disimpan di universitas Michigan. Fragmen papyri
yang terbesar, mencakup hampir keseluruhan surat-surat Rasul Paulus.
Namun papyrus yang paling berharga adalah Ryland papyrus yang disimpan
di Manchester, yaitu papyrus yang mengandung tulisan Injil Yohanes bab
18, yang berasal dari tahun 130, yang hampir bersamaan dengan teks
aslinya yang berasal dari tahun 96-98.
Kesimpulan: Kaitan tak terpisahkan antara Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium Gereja
Pemahaman akan asal usul terbentuknya Kitab Suci harusnya semakin
membantu kita untuk mengakui bahwa sesungguhnya Kitab Suci (yaitu ajaran
Kristus dan para Rasul yang dituliskan), tidak terpisahkan dari Tradisi
Suci (ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul). Sebab Kitab Suci
berasal dari ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul, yang kemudian
dituliskan, atas dasar kemampuan memori dari para penulisnya, dan juga
pertama-tama atas dorongan Roh Kudus. Dengan kata lain, Kitab Suci
mengambil sumbernya dari Tradisi Suci yang telah hidup dan berakar dalam
jemaat perdana. Maka, tidak menjadi masalah, jika faktanya teks Kitab
Suci yang asli/ original kemungkinan sudah punah di abad kedua, sebab
ajaran yang terkandung di dalam Kitab Suci sudah ada, tetap hidup dan
dilestarikan dalam kehidupan Gereja. Hal ini terlihat dari banyaknya
teks Kitab Suci yang dikutip dalam tulisan para Bapa Gereja yang hidup
di abad-abad awal tersebut. Inilah yang menyebabkan Kitab Suci dapat
terus diturunkan dan dituliskan dengan tingkat akurasi yang tinggi,
walaupun salinannya baru dapat ditemukan di abad berikutnya (sejumlah
salinan teks ditemukan di tahun 130, atau mayoritas teks ditemukan dalam
codices yang umumnya berasal dari abad ke-4).
Selanjutnya terbentuknya Kitab Suci juga tidak dapat dipisahkan dari
proses penentuan kanonnya. Sebab tidak semua dari karya tulis di
abad-abad pertama dapat dikatakan sebagai karya yang diinspirasikan oleh
Roh Kudus. Magisterium Gerejalah – pertama kali oleh Paus Damasus I-
yang pada tahun 382 menentukan kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh
Roh Kudus, sehingga termasuk dalam kanon Kitab Suci. Maka Kitab Suci
yang kita ketahui sekarang, berasal dari Magisterium Gereja Katolik.
Tentang sejarah kanon Kitab Suci, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.
Lampiran:
Tabel Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pengarang dan perkiraan tahun penyusunannya
| No | Nama Kitab | Pengarang Kitab | Perkiraan tahun penyusunan |
| PERJANJIAN LAMA: |
|||
| A | Kitab-kitab Hukum Musa | ||
| 1 | Kejadian | Musa | \ dikarang oleh Musa stl Exodus |
| 2 | Keluaran | Musa | | 1600/ 1200 SM |
| 3 | Imamat | Musa | | ditulis dalam beberapa tahapan |
| 4 | Bilangan | Musa | | 850,750,650,450 SM |
| 5 | Ulangan | Musa | / |
| B | Kitab-kitab Historis | ||
| 6 | Yosua | NN/ Yosua | sekitar 1200 SM |
| 7 | Hakim-hakim | NN | sekitar 1200- 970 SM |
| 8 | Ruth | NN | 1000-700 SM atau sebelum abad ke-6 SM |
| 9 | 1 Samuel | NN/ Samuel | sekitar abad ke-6 SM |
| 10 | 2 Samuel | NN/ Samuel | sekitar abad ke-6 SM |
| 11 | 1 Raja-raja | Yeremia | 587 s/d sebelum 538 SM |
| 12 | 2 Raja-raja | Yeremia | 587 s/d sebelum 538 SM |
| 13 | 1 Tawarikh | Ezra | setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM |
| 14 | 2 Tawarikh | Ezra | setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM |
| 15 | Ezra | Ezra | 458 SM |
| 16 | Nehemia | Nehemia | 445 SM |
| 17 | Tobit | Tobit dan Tobias | 350-170 SM |
| 18 | Yudit | NN | sekitar abad ke-2 SM |
| 19 | Ester | Mordekhai | setelah 480/465 SM |
| 20 | Ayub | NN/ Musa | sekitar 600- 400 SM |
| C | Kitab-kitab Puitis dan Kebijaksanaan | ||
| 21 | Mazmur | Daud, Musa, Salomo, Asaph, bani Korah, Eman, Ethan, NN |
sekitar abad ke-8 SM |
| 22 | Amsal | Salomo | 800 SM/sebelum abad ke-6 SM s/d abad ke-5 SM |
| 23 | Pengkhotbah | NN/ Pseudo Salomo | abad ke-3 SM |
| 24 | Kidung Agung | Salomo | setelah abad ke-8 SM |
| 25 | Kebijaksanaan | NN/ Pseudo Salomo | 200-150 SM |
| 26 | Sirakh | Yeshua bin Sirakh | 190-180 SM |
| D | Kitab-kitab Nubuat para Nabi |
||
| 27 | Yesaya | Yesaya | 742-701 SM, >539 SM, <520-473 SM |
| 28 | Yeremia | Yeremia | 627- <587 SM |
| 29 | Ratapan | Yeremia | sekitar abad ke-6 SM |
| 30 | Barukh | Barukh/NN | sekitar abad ke-6- 5 SM |
| 31 | Yehezkiel | Yehezkiel | sekitar abad ke-6 SM (592-570 SM) |
| 32 | Daniel | Daniel | sekitar abad ke-6 SM/ abad ke-2 SM |
| 33 | Hosea | Hosea | sekitar abad ke-8 SM (750-725 SM) |
| 34 | Yoel | Yoel | sekitar abad ke-8 SM/ abad ke-4 SM |
| 35 | Amos | Amos | 791-753 SM |
| 36 | Obadiah | Obadiah | sekitar abad ke-9 SM/ ke-6 SM/ <500 SM |
| 37 | Yunus | Yunus/ NN | sekitar abad ke-8 SM/ ke-7 SM |
| 38 | Mikha | Mikha | 740-695 SM |
| 39 | Nahum | Nahum | 663-612 SM |
| 40 | Habakkuk | Habakkuk | 610-600 SM |
| 41 | Zefanya | Zefanya | 640-609 SM |
| 42 | Hagai | Hagai | 520 SM (586-445 SM) |
| 43 | Zakaria | Zakaria | 520-518 SM |
| 44 | Maleakhi | Maleakhi | >460 SM |
| 45 | 1 Makabe | NN | 134-104 SM |
| 46 | 2 Makabe | NN | 124-80 SM |
| PERJANJIAN BARU: | |||
| 47 | Matius | Matius | 50 an |
| 48 | Markus | Markus | 55-62 |
| 49 | Lukas | Lukas | 62 |
| 50 | Yohanes | Yohanes | 90-100 |
| 51 | Kisah Para Rasul | Lukas | 63 |
| 52 | Roma | Paulus | 57/58 |
| 53 | 1 Korintus | Paulus | 54-57 |
| 54 | 2 Korintus | Paulus | 57 |
| 55 | Galatia | Paulus | 57/58 |
| 56 | Efesus | Paulus | 61-63 |
| 57 | Filipi | Paulus | 54-57 |
| 58 | Kolose | Paulus | 61-63 |
| 59 | 1 Tesalonika | Paulus | 50-52 |
| 60 | 2 Tesalonika | Paulus | 50-52 |
| 61 | 1 Timotius | Paulus | 65 |
| 62 | 2 Timotius | Paulus | 66-67 |
| 63 | Titus | Paulus | 65 |
| 64 | Filemon | Paulus | 61-63 |
| 65 | Ibrani | Paulus | 64-67 |
| 66 | Yakobus | Yakobus | sebelum 62 |
| 67 | 1 Petrus | Petrus | sebelum 67 |
| 68 | 2 Petrus | Petrus | sebelum 67 |
| 69 | 1 Yohanes | Yohanes | 90-100 |
| 70 | 2 Yohanes | Yohanes | 90-100 |
| 71 | 3 Yohanes | Yohanes | 90-100 |
| 72 | Yudas | Yudas | 50-70 |
| 73 | Wahyu | Yohanes | 60-70 |
Sumber:
1. Dom Orchard, gen.ed., A Catholic Commentary on Holy Scripture, (New York: Thomas Nelson and Sons, 1953)
2. Scott Hahn, gen. ed., Catholic Bible Dictionary, (New York: Double Day, 2009)
3. James D Newsome, The Hebrew Prophets, (Altanta: John Knox Press, 1984), alt. by David Twellman
4. George T. Montague SM, The Living Thought of St. Paul, (Encino, California: Benzinger Bruce & Glencoe, Inc., 1976)
Kebahagiaan Hanya di Dalam Tuhan Menurut Aristoteles
Orang-orang di masa moderen ini sulit menerima bahwa kebahagiaan
hanya di dalam Tuhan; mereka menyangkal kebenaran itu dengan mengatakan
bahwa pernyataan itu hanyalah ungkapan iman dan tidak bisa
didemonstrasikan kebenarannya. Penyangkalan ini tidak lain adalah hasil
dari lumpuhnya pendidikan modern yang memandang sebelah mata pendidikan
klasik, padahal pemikiran dari orang-orang seperti Homer, Aristoteles,
St. Augustine, dan St. Thomas Aquinas lah yang membentuk dunia sekarang
ini. Tanpa mempelajari Aristoteles dan St. Thomas Aquinas, seseorang
akan sulit menerima bahwa sesungguhnya artikel-artikel iman memiliki
fondasi rasional yang begitu kokoh, termasuk mengenai “kebahagiaan hanya
di dalam Tuhan.”
Dalam karyanya Nicomachean Ethics, Aristoteles (384–322 BC)
mendiskusikan tentang Etika, yaitu bagaimana seseorang itu harus hidup
dan mengapa ada cara hidup yang lebih sempurna dari yang lainnya. Karya
ini, walaupun seringkali dilupakan oleh pendidikan modern, adalah
fondasi bagi perkembangan filosofi, politik, dan teologi sejak abad
pertengahan. Dalam beberapa buku-buku awalnya dalam Nicomachean Ethics,
Aristoteles mempertanyakan hal-hal fundamental, dan tema yang paling
besar adalah mengenai tujuan akhir manusia (atau semua aktivitas
manusia). Seperti yang biasa diterapkannya, Aristoteles menjawab
pertanyaan-pertanyaan dasar dengan argumen yang kokoh dan logis. Namun,
ketika membahas tentang tujuan akhir manusia yang ia mengerti sebagai
“kebahagiaan,” ia hanya berhenti di satu titik abstrak di mana tanpa
pewahyuan Allah argumen tersebut sulit dikembangkan lebih jauh. St.
Thomas Aquinas kemudian menyempurnakan pencarian jawaban dari pertanyaan
“apakah tujuan akhir manusia” dalam karyanya Summa Theologica dengan jawaban yang lebih konkrit, tentunya dibantu oleh keuntungan yang ia dapatkan dari pewahyuan Allah.
Dalam kesempatan ini, logika dan argumen Aristoteles dalam
menjelaskan tujuan akhir manusia akan dijabarkan ke dalam enam poin
singkat.
Semua aktivitas mengarah kepada suatu tujuan ((Aristoteles, Nicomachean Ethics I:1))
Aristoteles selalu memulai argumennya dengan pernyataan yang
kebenarannya dapat diterima semua orang: semua aktivitas mengarah kepada
suatu tujuan. Tampaknya, pertanyaan tersebut tidak bisa dibantah
kebenarannya. Tumbuhan bertumbuh untuk suatu tujuan: menghasilkan buah.
Sapi memakan rumput untuk suatu tujuan: bertahan hidup. Manusia
berolahraga untuk tujuan tertentu: menjaga kesehatan. Semua aktivitas
mengarah pada tujuan tertentu dan tidak ada aktivitas yang dilakukan
tidak untuk mencapai sesuatu, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Tujuan-tujuan tidak mungkin berjumlah tak terhingga ((NE I:2))
Suatu tujuan itu mengarah pada tujuan lain. Manusia bekerja,
misalkan, untuk mencari uang, dan uang digunakan untuk memeroleh
makanan, dan seterusnya. Namun, tujuan-tujuan manusia tidak mungkin
berjumlah tak terhingga karena, bila manusia memunyai tujuan-tujuan yang
tak terhingga, maka manusia tidak memunyai tujuan apapun, dan itu
adalah tidak masuk akal. ((Pembuktian pernyataan ini menggunakan metode reductio ad absurdum,
yaitu dengan menunjukkan bahwa penyangkalan pernyataan tersebut akan
menghasilkan implikasi yang salah atau tidak masuk akal. Contohnya,
pernyataan “semua manusia itu bisa meninggal” itu benar karena bila “ada
manusia yang tidak bisa meninggal,” maka sekarang ada manusia yang
berumur ribuan tahun, dan pernyataan itu adalah tidak masuk akal (absurd).)) Penjelasan argumen tersebut adalah sebagai berikut.
A –> B, B –> C, C –> D
A = tujuan awal
B, C = tujuan pertengahan
D = tujuan akhir
Bila tujuan-tujuan manusia itu tak terhingga, maka tidak ada tujuan
akhir (tujuan yang tidak mengarah pada hal lain). Tanpa tujuan akhir
(misalkan D), maka tidak mungkin ada tujuan-tujuan pertengahan (misalkan
B, C) dan, maka, tidak mungkin ada tujuan awal (misalkan A): pernyataan
ini tidak masuk akal karena dengan demikian tidak ada yang pernah
terjadi. Maka dari itu, tujuan-tujuan manusia pasti mengarah pada satu
tujuan akhir, dan bukan berjumlah tak terhingga.
Tujuan akhir manusia adalah sesuatu yang setelah dicapainya, ia tidak lagi mencari tujuan lain, atau tujuan akhir manusia adalah sesuatu yang dicari demi hal itu sendiri dan tidak demi hal lain. ((NE I:2))
Apa itu “tujuan akhir”? Tujuan dari suatu aktivitas itu berbeda-beda,
dan nampaknya, ada tujuan yang lebih penting dan sempurna dari yang
lainnya. Tujuan yang paling penting dan sempurna adalah tujuan yang
dicari demi tujuan itu sendiri. Uang bukanlah tujuan manusia yang paling
penting karena uang digunakan untuk mencari tujuan lain, seperti
makanan. Makanan juga bukan tujuan manusia yang paling penting karena
makanan digunakan untuk mencari tujuan lain, yaitu bertahan hidup. Bila
telah dibuktikan bahwa manusia pasti memiliki tujuan akhir, tujuan akhir
tersebut tidak akan dicari demi tujuan lain, melainkan demi tujuan itu
sendiri.
Kebahagiaan adalah tujuan akhir manusia ((NE I:2))
Kebahagiaan (Gk. eudaimonia), nampaknya, adalah tujuan akhir
manusia, karena kebahagiaan tidak digunakan untuk mencari tujuan lain;
kebahagiaan dicari demi kebahagiaan itu sendiri. Sebagai experimen,
andaikan kita mengetahui cara langsung untuk mendapatkan kabahagiaan
yang sempurna dan abadi; pasti kita tidak ragu untuk menggunakan cara
itu, dan uang, kenikmatan, kekuasaan, dan hal-hal lain menjadi tidak
penting karena semuanya pun dicari demi kebahagiaan. Namun, apakah
kebahagiaan itu? Istilah ini harus dijelaskan sebelum kita bisa memahami
apakah tujuan akhir manusia.
Macam-macam kebahagiaan (pendapat orang-orang mengenai kebahagiaan) ((NE I:5))
Aristoteles menganalisa dengan bertanya: apakah pendapat orang-orang
mengenai kebahagiaan? Setidaknya ada tiga pendapat umum mengenai apa
kebahagiaan itu. Pertama, seseorang mengira bahwa kebahagiaan adalah
gratifikasi, atau kesenangan (gratification/pleasure).
Namun, tampaknya ini bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya dicari
manusia; kehidupan yang hanya mencari hal tersebut tidaklah berbeda
dengan kehidupan sapi atau binatang-binatang lainnya yang hanya mencari
rumput demi kepuasan dirinya. Manusia seharusnya memiliki kebahagiaan
yang lebih tinggi.
Ada pula yang berpikir bahwa kebahagiaan terletak di kekuasaan
politik, yaitu menjalani hidup yang berkebajikan. Ada pula yang berpikir
bahwa kebahagiaan terletak di aktivitas intelektual (Gk. theorein).
Kepemilikan uang sudah jelas bukanlah kebahagiaan yang dicari manusia
karena uang hanyalah alat untuk mendapatkan hal-hal di atas: kesenangan,
kekuasaan, dan kecerdasan. Untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya
dicari manusia, kita harus melihat apakah fungsi manusia itu yang
membedakan dia dari makhluk-makhluk lain karena setiap aktivitas
bergantung pada fungsinya.
Kebahagiaan itu harus dicari berdasarkan fungsi unik manusia ((NE I:7))
Ada tiga tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, fungsi manusia adalah sebagai makhluk hidup (living being).
Sebagai makhluk hidup, manusia selalu mencari cara untuk mempertahankan
eksistensinya, baik dengan makanan ataupun keturunan. Fungsi ini,
nampaknya, bukanlah fungsi unik manusia karena semua tumbuhan juga
memiliki disposisi atau kecenderungan yang serupa. Pohon berusaha tumbuh
ke atas untuk mencari sinar matahari yang akan mempertahankan hidupnya.
Kedua, fungsi manusia adalah sebagai makhluk perasa (sensing being).
Selain berusaha mempertahankan hidupnya, manusia juga dapat merasakan
sakit dan senang, buruk dan baik, suka dan tidak suka terhadap sesuatu.
Namun, ini juga bukanlah fungsi manusia yang paling sempurna karena
setiap binatang juga memiliki kecenderungan yang sama: mencari yang baik
dan menjauhi yang buruk. Seekor domba akan menjauhi serigala dan
mencari gembalanya.
Ketiga, fungsi manusia adalah sebagai makhluk berakal budi (rational being).
Tampaknya, inilah fungsi manusia yang paling sempurna karena hanya
manusialah yang memiliki kekuatan untuk berakal budi, yaitu kekuatan
yang terletak pada aktivitas jiwa/roh manusia. Maka dari itu, bila
fungsi utama seorang nahkoda adalah membawa kapalnya sampai di
tujuannya, aktivitas itulah yang harus menjadi tujuan utama oleh nahkoda
tersebut—selama ia adalah nahkoda (a sailor insofar as a sailor).
Sama halnya seperti manusia: bila fungsi utama manusia adalah aktivitas
dalam berakal budi, maka tujuan akhir dari manusia, atau kebahagiaan,
seharusnya adalah kesempurnaan dalam aktivitas berakal budi.
Kesimpulan: Kebahagiaan menurut Aristoteles
Hidup di abad keempat BC, Aristoteles, tanpa mendapatkan pewayhuan
Allah, berhasil mencari tujuan akhir manusia sampai pada pengertian
kebahagiaan sebagai penyempurnaan dalam aktivitas berakal budi, dan
penyempurnaan ini yang dia mengerti sebagai kebajikan. ((Kebajikan (virtue), dalam hal ini, adalah penyempurnaan aktivitas berakal budi (NE I:7), dan akal budi adalah bagian dari jiwa (NE I:8). Maka, definisi kebahagiaan menurut Aristoteles: Happiness is a sort of activity of the soul expressing virtue (cf. NE I:9,10), dan definisi orang bahagia menurut Aristoteles: “the
one who expresses complete virtue in his activities, with an adequate
supply of external goods, not for just any time but for a complete life” (NE
I:10).)) Namun, pencarian tujuan akhir manusia ini tentu belum
sempurna. Selama tujuan akhir manusia belum ditemukan dalam
kesempurnaannya, dan karena setiap aktivitas itu dilakukan berdasarkan
tujuan akhirnya, Etika masih diselimuti ketidakpastian: bagaimana
seseorang harus hidup dan berperilaku? St. Thomas akan melanjutkan
pencarian ini, dan dengan bantuan pewahyuan Allah, ia berhasil
memberikan jawaban yang lebih pasti mengenai apakah kebahagiaan itu yang
sebenarnya dicari manusia.
Kebahagiaan Hanya di dalam Tuhan: Bagaimana St. Thomas “Membaptis” Filsafat Aristoteles
Pencarian kebahagiaan manusia yang dilakukan Aristoteles berujung di
pengertian kebahagiaan sebagai penyempurnaan dalam aktivitas berakal
budi. Aristoteles kemudian menjelaskan kebahagiaan ini sebagai suatu
bentuk kehidupan berkebajikan (life expressing virtue)yang
terus-menerus, dan bukan hanya sementara saja. Walaupun ia melanjutkan
diskusi mengenai “kebajikan” itu sendiri, Aristoteles tidak memberikan
kepastian bagaimana kebahagiaan seperti itu dapat ditemukan manusia.
Dalam hal ini, pewahyuan tentunya berperan besar. Seperti yang dikatakan
Katekismus, pewahyuan Allah membuat sesuatu yang tidak pasti menjadi
pasti bagi manusia, agar manusia dapat percaya dengan mudah, keteguhan
yang kokoh, dan tanpa tercampur kesalahan atau kesesatan. ((cf. KGK 38))
Dengan bantuan pewahyuan, St. Thomas secara indahnya meneruskan
pencarian Aristoteles dan memberikan manusia suatu kepastian di mana
kebahagiaan itu dapat ditemukan.
Kebahagiaan akhir manusia terletak pada penyempurnaan aktivitas berakal budi
St. Thomas akan membawa argumennya berdasarkan hasil pencarian
Aristoteles bahwa kebahagiaan manusia terletak pada penyempurnaan
aktivitas berakal budinya. St. Thomas kemudian menjelaskan bagaimana
penyempurnaan aktivitas berakal budi itu dapat tercapai.
Penyempurnaan aktivitas berakal budi adalah mengetahui esensi sesuatu
Penyempurnaan setiap kekuatan manusia ((Kekuatan-kekuatan dasar manusia (basic powers of man) dapat dikelompokkan menjadi intelek/akal budi (intellect/reason), kehendak (will), dan kesukaan/gairah (passions). )) itu berdasarkan natur dari objeknya. Sebagai contoh, penyempurnaan dari kehendak (the will) adalah kasih (charity), yaitu menghendaki kebaikan yang lain, karena objek dari kehendak adalah kebaikan (good). ((cf. St. Thomas, STh.
II-II, q. 172, a. 2, ad. 1; Kehendak dan kesukaan/gairah selalu mencari
“kebaikan”, baik “kebaikan” yang sesungguhnya, ataupun “kebaikan” yang
hanya tampak demikian)) Maka, penyempurnaan dari akal budi adalah
mengetahui esensi dari sesuatu, karena esensi, yaitu “apa hal itu” (what it is), adalah yang dicari akal budi. ((cf. Aristoteles, De Anima,
iii, 6.)) Akal budi manusia tidak hanya melihat/memahami aksiden,
seperti spektrum warna, bentuk, dan ukuran pada objek-objek di
sekitarnya. Kita tidak hanya melihat lingkaran, warna hijau, dan bentuk
memanjang, tetapi akal budi manusia melihat matahari, pohon-pohon, dan
sungai dengan “menggabungkan” aksiden-aksiden tersebut (warna, bentuk,
ukuran, dan sebagainya) dan melihatnya sebagai suatu esensi (matahari,
pohon, sungai, dan sebagainya). Sebagai contoh lainnya, ketika seseorang
memandang crucifix, ia tidak hanya melihat bentuk salib, warna cokelat,
dan tekstur kasar; akal budinya melihat esensi dari objek tersebut,
yaitu crucifix. Maka, penyempurnaan aktivitas berakal budi, berdasarkan
objeknya, adalah mengetahui esensi dari suatu objek.
Manusia lebih mencari esensi dari sebab daripada akibat.
Setelah terbukti bahwa kebahagiaan manusia terletak pada aktivitas
tertingginya, yaitu berakal budi, dan dengan berakal budi ia mencari
esensi dari sesuatu dan bukan sekedar aksiden, maka pertanyaannya adalah
apakah manusia mencari esensi dari suatu sebab atau akibat. Nampaknya,
manusia secara natural ingin mencari esensi dari sebab. Hal ini
dikarenakan manusia hanya dapat melihat secara langsung esensi dari
akibat, sedangkan sebabnya hanya diketahui sejauh kita tahu bahwa segala
sesuatu ada penyebabnya. ((Dengan melihat/mengerti esensi dari akibat,
kita melihat “apa (akibat/hal) itu” (what it is). Namun dengan melihat akibat, kita tahu mengenai sebab bahwa “(sebab/hal) itu ada” (that it is), namun belum mengetahui “apa (sebab) itu” (what it is).
Kenyataan ini lah yang membuat kita terus bertanya-tanya mengenai
sebab.)) Ketika kita melihat esensi dari asap, kita tahu bahwa asap itu
ada penyebabnya. ((Dalam hal ini, asap adalah “akibat” sejauh asap
memiliki “sebab”.)) Ini membuat kita ingin mencari penyebabnya, dan
setelah kita melihat esensi dari penyebabnya, misalnya api, kita pun
tahu bahwa api itu ada penyebabnya. ((Dalam hal ini, api adalah “akibat”
sejauh api memiliki “sebab”.)) Sebagai contoh lain seperti yang
diberikan St. Thomas, bila kita melihat gerhana matahari, dan tahu bahwa
hal tersebut pasti disebabkan oleh sesuatu, kita akan terus
bertanya-tanya tentang penyebabnya sampai kita melihat/mengerti esensi
dari sebab gerhana itu. Namun, kita akan tetap bertanya-tanya selama
penyebab dari gerhana itu juga disebabkan oleh hal lain. Maka, manusia
dengan akal budinya selalu memiliki kerinduan untuk mencari esensi
penyebab dari akibat yang dilihatnya.
Manusia belum bahagia selama akal budinya masih mencari sesuatu.
Nampaknya jelas bahwa selama kekuatan tertingginya, yaitu akal budi,
masih mencari sesuatu, manusia belum dapat dikatakan berbahagia. Selama
binatang, yang kekuatan tertingginya adalah kesukaan/gairah, masih
mencari sesuatu yang lebih disukainya, ia masih belum berbahagia. Selama
seorang nahkoda, sejauh ia seorang nahkoda, masih mencari tujuan akhir
bagi kapal yang dikemudikannya, ia belum “berbahagia” atau belum
memenuhi tujuan akhir dari keberadaannya. Dengan demikian, selama akal
budi manusia masih mencari esensi dari sesuatu, manusia belum dapat
dikatakan berbahagia atau berhasil mencapai tujuan akhirnya.
Kebahagiaan sempurna manusia terletak pada pengetahuan akan esensi dari Sebab Pertama.
Kita telah menyetujui bahwa, pertama, manusia tidak pernah puas
selama akal budinya masih dapat mencari sesuatu. Kemudian, manusia
selalu ingin mencari esensi dari sebab dan bukan sekedar akibat. Dengan
demikian, kebahagiaan sempurna manusia terletak pada
pengetahuan/penglihatan akan esensi dari Sebab Pertama (First Cause),
yaitu sesuatu yang tidak disebabkan oleh hal lain. ((Sebab Pertama
pasti ada karena tidak mungkin ada rangkaian sebab-akibat yang tak
terhingga (lihat bagian pertama dalam pembuktian adanya tujuan akhir
manusia dengan argumen reductio ad absurdum). Lihat pula STh.
I, q. 2, a. 3.)) Setelah mengetahui/melihat esensi dari Sebab Pertama
ini, ia dengan akal budinya tidak lagi mencari hal lain karena tidak ada
yang menjadi sebab dari Sebab Pertama. Maka, kebahagiaan manusia
dicapai setelah akal budinya melihat Sebab Pertama.
Kebahagian manusia hanya ada di dalam kesatuannya dengan Allah
Aristoteles telah membuktikan keberadaan dari Sebab Pertama, namun ia
tidak mengembangkan pribadi tersebut lebih jauh dari sekedar Pure Act yang abstrak dan nonpersonal. St. Thomas kemudian menerangkan sosok Sebab Pertama ini dengan menyebutnya sebagai “Allah” dalam quinque viae
(lima jalan) yang ia berikan untuk membuktikan eksistensi Allah. Maka,
untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna, yaitu tujuan akhir manusia,
akal budi perlu mencapai esensi dari Sebab Pertama, yaitu Allah. Namun,
di dunia ini kita belum dapat melihat esensi Allah secara sempurna: kita
hanya tahu bahwa Allah “itu ada” (that He is) berdasarkan ciptaan-ciptaannya, tetapi tidak tahu secara sempurna “apa itu” (what He is)
Allah. Dengan demikian, penyempurnaan akal budi manusia hanya ada di
dalam kesatuannya dengan Allah di dunia yang akan datang, di mana
kebahagiaan dan tujuan akhir manusia dapat tercapai dengan melihat “apa
itu” Allah melalui Beatific Vision.
Kesimpulan
Pada akhirnya, walaupun tanpa pewahyuan, kita dapat secara jelas dan
yakin mengetahui bahwa manusia memiliki tujuan akhir dan hidupnya tidak
tanpa arah atau tujuan; tujuan itu adalah yang kita mengerti sebagai
kebahagiaan, yaitu sesuatu yang dicari demi hal itu sendiri dan tidak
demi hal lain. Aristoteles pun menegaskan bahwa kebahagiaan itu tidak
terletak pada sekedar kesenangan atau kenikmatan, atau bahkan uang,
tetapi pada aktivitas manusia yang paling mulia dan unik, yaitu berakal
budi. St. Thomas, yang menyempurnakan pemahaman Aristoteles mengenai
Allah menjadi pribadi yang personal dan jelas keberadaannya, meyakinkan
bahwa penyempurnaan aktivitas manusia itu hanya ada di dalam Allah,
karena hanya setelah melihat Allah akal budi manusia akan terpuaskan.
Dengan demikian, pewahyuan Allah tidak menggantikan posisi filsafat
Aristoteles, melainkan memperjelas, menyempurnakan, dan memberikan
kepastian kepada kita mengenai kebenarannya.
St. Thomas juga melengkapi bahwa Allah tidak hanya memenuhi kerinduan
akal budi manusia sebagai kekuatan tertingginya, namun hanya Allah pula
yang dapat memenuhi semua kekuatan manusia, yaitu kehendak (will) dan kesukaan/gairah (passions), dan tidak ada ciptaan yang dapat memberikan manusia kebahagian yang sempurna. ((cf. STh.
I-II, q. 2, a. 8)) Orang-orang yang menganggap mereka dapat mendapatkan
kebahagiaan di dunia ini jelas tertipu. Secara sederhana, sesuatu tidak
dapat dipuaskan oleh hal yang di bawah kodratnya. Seekor sapi tidak
dapat dipuaskan dengan berperilaku seperti tumbuhan: hanya berdiam diri
dan makan. Demikian pula dengan manusia. Manusia tidak dapat dipuaskan
dengan dunia ini sebab akal budinya dapat beraktivitas secara lebih
tinggi dan mulia dari sekedar eksistensi fisik dunia ini. Pernyataan ini
menjadi masuk akal: karena manusia memiliki kemampuan berakal budi yang
merupakan partisipasi dalam suatu kenyataan yang lebih tinggi, hanya
pribadi yang lebih tinggi yang dapat memuaskan manusia secara penuh, dan
pribadi itu adalah yang kita pahami sebagai Allah.
Bukti nyata dari argumen ini adalah kehidupan orang-orang kudus:
mereka menyadari bahwa kebahagiaan hanya ada di dalam Allah, dan mereka
sebagai manusia memiliki kodrat untuk mencari kebahagiaan. Maka, mereka
tidak menyia-nyiakan hidupnya mencari ciptaan-ciptaan, melainkan mereka
langsung mencari Pencipta, yaitu melalui kehidupannya yang merefleksikan
kehidupan surgawi. Inilah poin utama dari rangkaian artikel ini:
kembali pada pernyataan pertama yang dibuat Aristoteles dalam Nicomachean Ethics,
bahwa semua aktivitas mengarah kepada suatu tujuan, tindakan kita harus
didasari oleh tujuan yang kita hendaki, karena dengan demikianlah
tujuan itu dapat tercapai. Mengetahui bahwa tujuan akhir manusia adalah
kesatuannya di dalam Allah, tidak ada alasan yang masuk akal bagi
manusia untuk tidak menjadi seperti orang-orang kudus: hanya melakukan
segala hal yang membawa jiwanya semakin dekat kepada Sang Sebab Pertama.
“Engkau [Allah] telah membuat kami dan menarik kami pada-Mu, dan hati
kami tidak akan tenang hingga ia beristirahat dalam Engkau” (St.
Agustinus, The Confessions I, 1).
Langganan:
Komentar (Atom)
PASKAH SEKAMI 2019
PASKAH SEKAMI 2019 Paskah merupakan suatu momentum yang sangat penting, yaitu tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini, Seka...
-
PASKAH SEKAMI 2019 Paskah merupakan suatu momentum yang sangat penting, yaitu tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini, Seka...














